Cuaca ekstrem yang diprediksi melanda saat musim mudik Lebaran mendatang harus jadi perhatian utama. Ujang Komarudin, pengamat dari Universitas Al Azhar Indonesia, menekankan hal ini. Menurutnya, ancaman perubahan iklim yang memicu bencana tak terduga menuntut antisipasi yang benar-benar matang.
"Ini mudik yang perlu diantisipasi dengan serius," ujar Ujang saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
"Cuaca ekstrem bisa terjadi di mana-mana. Butuh perencanaan yang komprehensif agar masyarakat merasa aman dan nyaman di jalan."
Dia meyakini, perencanaan bertahap dan menyeluruh soal pengamanan mudik adalah kuncinya. "Kalau direncanakan dari awal, ketertiban bisa terwujud. Mudik pun bisa aman, tertib, dan lancar jaya," tambahnya.
Di sisi lain, pemerintah sendiri sudah memulai persiapan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memproyeksikan pergerakan masyarakat akan mencapai angka yang fantastis: sekitar 143,9 juta orang. Angka itu didapat dari survei yang dilakukan untuk mengukur preferensi dan persepsi calon pemudik.
Rapat koordinasi tingkat menteri pun sudah digelar. Lalu, apa saja yang disiapkan? Jumlahnya tidak main-main. Untuk melayani arus tersebut, Kemenhub menyediakan puluhan ribu unit bus, ratusan kapal, ribuan kereta api, serta pesawat dan kapal penyeberangan.
Tak cuma jumlah, kesiapan teknis juga diperiksa. Ribuan unit dari berbagai moda transportasi telah melalui proses ramp check. Mulai dari angkutan darat, laut, penyeberangan, udara, hingga perkeretaapian.
Persiapan lain juga digelar. Misalnya program diskon tiket, Angkutan Mudik Gratis, hingga aturan bersama untuk pengaturan kendaraan angkutan barang. Semua ini dilakukan agar gelombang besar pemudik bisa terlayani dengan baik, meskipun cuaca mungkin tak bersahabat.
Artikel Terkait
Pemkot Malang Atur Pasar Takjil dan Jam Operasional Hiburan Selama Ramadan
Eks Menhub Budi Karya Sumadi Absen dari Pemeriksaan KPK
Panduan Lengkap Pasang Twibbon Ramadan 2026 untuk Semarakkan Media Sosial
Mantan Kapolres Bima Kota Hadapi Sidang Etik Polri Terkait Dua Kasus Narkoba