Jalan Ratusan Meter Raib Diterjang Banjir Bandang di Tanah Datar

- Jumat, 02 Januari 2026 | 13:48 WIB
Jalan Ratusan Meter Raib Diterjang Banjir Bandang di Tanah Datar

November 2025 lalu, Sumatera Barat ikut merasakan amukan banjir bandang. Kawasan Nagari Sumpur di Kabupaten Tanah Datar tak luput dari terjangan itu, bersamaan dengan wilayah lain di Aceh dan Sumatera Utara.

Jumat (2/1) lalu, kondisi di tepian sungai yang jadi episentrum bencana masih memprihatinkan. Sepanjang kira-kira 300 meter, jalanan itu nyaris raib. Yang tersisa cuma cekungan lebar, mirip sungai kering, konturnya jauh lebih dalam dibanding tanah di sekitarnya yang selamat.

Bebatuan besar-besar berserakan di atas tanah. Itu semua terbawa arus deras, mengubur aspal yang dulu jadi akses utama warga menuju sawah. Sampai sekarang, kendaraan mana pun mustahil lewat.

Tak cuma jalan yang lenyap. Pohon-pohon besar juga tumbang berantakan, tercabut sampai ke akarnya oleh kekuatan air yang luar biasa.

Di tengah situasi itu, warga tak tinggal diam. Sebuah ekskavator hasil patungan masyarakat terlihat sibuk bekerja, berusaha menormalkan aliran sungai. Mereka juga buru-buru membuat tanggul darurat dari tumpukan batu, upaya seadanya untuk melindungi sawah dari luapan air berikutnya.

Betra, salah seorang warga yang kami temui, masih jelas mengingat momen menegangkan itu. Katanya, hujan tak henti mengguyur selama tiga hari berturut-turut.

“Ya kalau diperkirakan curah debit air itu satu hari buat normalnya satu bulan,”

Ia mencoba menggambarkan besarnya air yang datang dalam sehari itu, setara dengan debit sebulan penuh di kondisi normal.

Harapan Warga Terdampak

Menurut Betra, saat bencana terjadi, warga sempat terisolasi. Beberapa rumah bahkan hanyut diterjang banjir.

“Sebentar itu (terisolasi). Tapi ya rumah yang hanyut ya direlokasi,”

Suaranya terdapat harapan, tapi juga kecemasan. Harapan terbesarnya sekarang sederhana: pemulihan pascabencana bisa berjalan cepat. Para petani yang kehilangan irigasi sangat membutuhkan sumber air untuk menyambung hidup.

“Ya harapannya cepat diperbaiki lah seperti semula. Kalau gak semula pokoknya cepat perbaikin biar lancar lagi jalan-jalannya,”

Ia menekankan, saluran air untuk sawah adalah urat nadi warga di sana.

“Yang paling berdampak kayak jalur irigasi itu. Jadi sekarang bantuan (diminta) cepat untuk perairan sawah. Soalnya itu bisa dibilang mata pencaharian masyarakat sini,”

Tanpa itu, kehidupan mereka benar-benar terancam.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar