Namun begitu, narasi dari pihak Rusia sama sekali berbeda. Mereka justru menuding Ukraina sebagai dalang serangan mematikan di Kherson. Menurut klaim mereka, sebuah serangan drone menewaskan 24 orang yang sedang berkumpul merayakan tahun baru di sebuah hotel dan kafe. Korban luka-luka disebutkan mencapai 50 orang.
Insiden ini langsung dimanfaatkan oleh otoritas pendudukan setempat. Gubernur pro-Rusia, Vladimir Saldo, tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melontarkan tuduhan pedas.
Jadi, di hari pertama tahun 2026 ini, yang terdengar bukanlah suara terompet atau sorak-sorai. Melainkan dentuman, tudingan, dan ratapan korban dari dua sisi yang terus bertikai. Perang kata-kata berjalan beriringan dengan perang di lapangan, saling mengisi dalam lingkaran kekerasan yang tiada habisnya.
Artikel Terkait
Sunyi yang Berbicara: Ketika Ulama Minang Menjinakkan Euforia Tahun Baru
Puncak Macet Parah, Polisi Terapkan Sistem Satu Arah
600 Hunian Darurat Tuntas di Aceh Tamiang, BRI dan BUMN Pacu Pembangunan
Pemilik Warung Steak Kalibata Dipanggil Polda, Kerugian Hampir Rp 100 Juta