Gelombang protes melanda Somaliland. Ratusan orang turun ke jalan, menolak keras pengakuan Israel terhadap wilayah mereka.
Aksi ini digerakkan terutama oleh klan Samaroon. Meski pemerintah setempat terlihat menyambut hangat langkah Israel, suara di jalanan justru berkata lain. Mereka dengan lantang menyatakan dukungan untuk Palestina, sekaligus menampik pengakuan dari negara yang mereka anggap sebagai penjajah itu.
Namun begitu, kemarahan tak hanya berhenti di Somaliland. Gelombangnya menjalar ke Somalia. Di Mogadishu dan sejumlah kota lain, puluhan ribu orang membanjiri jalan. Suasana jadi makin panas.
Bendera Somalia dan Palestina berkibar di tengah lautan massa. Teriakan penolakan menggema, mengecam apa yang disebut sebagai pelanggaran kedaulatan oleh Israel. Aksi besar-besaran ini berlangsung sejak akhir Desember 2025, dan masih berlanjut hingga Januari 2026.
Lalu, apa sebenarnya yang memicu semua ini?
Artikel Terkait
Sunyi yang Berbicara: Ketika Ulama Minang Menjinakkan Euforia Tahun Baru
Puncak Macet Parah, Polisi Terapkan Sistem Satu Arah
600 Hunian Darurat Tuntas di Aceh Tamiang, BRI dan BUMN Pacu Pembangunan
Pemilik Warung Steak Kalibata Dipanggil Polda, Kerugian Hampir Rp 100 Juta