"Hari ini orang-orang berusaha menunjukkan dukungan mereka pada hari pertama tahun baru," ujarnya, sambil melihat kerumunan yang terus membesar.
Acara berlangsung khidmat namun penuh semangat. Ada pidato-pidato, lalu kemudian penampilan Maher Zain. Penyanyi kelahiran Lebanon itu membawakan lagu "Free Palestine", disambut oleh lautan bendera yang berkibar-kibar.
Namun begitu, di balik kemeriahan itu, ada ketidakpercayaan yang mendalam. Banyak pengunjuk rasa yang menolak mentah-mentah narasi gencatan senjata yang digaungkan.
"Orang-orang di sini tidak percaya pada gencatan senjata," jelas Koseoglu lagi. Mereka memandangnya bukan sebagai perdamaian, melainkan sebagai "proses genosida yang berlangsung secara perlahan."
Di sisi lain, tekanan terhadap pemerintah Turki untuk berbuat lebih jauh juga terasa. Meski Ankara telah menghentikan perdagangan dengan Israel dan menutup akses udara serta pelabuhan, bagi banyak demonstran, langkah itu dinilai masih terlalu simbolis.
Yang mereka inginkan adalah tekanan internasional yang berkelanjutan. Intinya sederhana: menunjukkan solidaritas dan memastikan dunia tidak melupakan Gaza. Seperti peringatan Koseoglu, gencatan senjata saat ini dianggap sangat rapuh dan kerumunan di Jembatan Galata itu adalah bukti nyata bahwa banyak orang yang tak mau tinggal diam.
Artikel Terkait
Prabowo dan BRICS: Bebas Aktif atau Pergeseran Haluan?
Tragedi Api di Crans-Montana: Pesta Tahun Baru Berubah Jadi Malapetaka
Tragedi Api di Bar Swiss, Pesta Tahun Baru Berujung Duka
Rem Blong di Turunan Sendi, Elf Wisata Terbalik dan Lukai 16 Penumpang