Respon dari Moskow pun cepat datang. Komite Investigasi Rusia langsung membuka penyelidikan kriminal atas insiden tersebut. Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, tak ragu menyematkan label keras. Dia menuduh Ukraina melakukan aksi bak teroris yang menyasar warga sipil.
Namun begitu, dari sisi Ukraina, belum ada pernyataan resmi atau komentar apa pun yang dikeluarkan otoritas setempat. Keheningan mereka kontras dengan gemuruh kecaman dari Moskow.
Lokasi serangan sendiri punya catatan sejarah konflik yang panjang. Khorly, sebuah desa di semenanjung tepi Laut Hitam, sudah berada di bawah kendali Rusia sejak tahap awal invasi mereka pada Februari 2022. Tapi situasi berubah di musim gugur tahun yang sama. Pasukan Ukraina melakukan serangan balasan yang sukses merebut kembali sebagian besar wilayah Kherson, termasuk ibu kotanya.
Sejak saat itu, Sungai Dnieper menjadi garis depan alamiah yang memisahkan kedua pihak. Dan garis itu kerap jadi saksi bisu pertukaran serangan drone, sebuah pola perang yang kini sudah jadi rutinitas berdarah di wilayah itu.
Artikel Terkait
Bahasa Birokrasi yang Mengasingkan: Ketika Pemerintah Lupa Bercerita
Rajab 1447 H: Puasa Ayyamul Bidh Januari 2026, Momentum Ibadah yang Bertepatan dengan Bulan Haram
Kebun Binatang Surabaya Dibanjiri 30 Ribu Pengunjung di Hari Pertama 2026
Hilirisasi Karet: Jalan Keluar dari Jerat Ekspor Mentah bagi Petani