Di Aceh Tamiang, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, punya penekanan khusus. Pasca bencana, yang paling genting adalah memulihkan tempat tinggal. Baik itu hunian sementara, apalagi hunian tetap untuk warga Sumatera yang terdampak. Itu kuncinya.
Namun begitu, fokusnya tak cuma pada rumah yang hancur total. AHY bilang, perbaikan rumah dengan kerusakan ringan dan sedang juga harus jalan beriringan. Logikanya sederhana: semakin cepat rumah-rumah itu bisa ditinggali, semakin cepat pula pengungsian bisa dikosongkan.
“Secara intuisi, kita pasti prioritaskan yang rusak berat dulu,” ujar AHY.
“Tapi sebetulnya, kalau perbaikan rumah rusak ringan bisa dipercepat, justru akan mengurangi jumlah kamp pengungsian dengan signifikan. Mereka bisa lebih cepat pulang.”
Pernyataan itu disampaikannya dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, Kamis lalu.
Menurut AHY, fase rekonstruksi pascadarurat kini jadi agenda utama. Di sini, kolaborasi antar kementerian memegang peran vital. Tanpa sinergi yang solid, upaya membangun kembali akan tersendat.
“Ambil contoh Kementerian ATR/BPN,” jelasnya.
“Mereka harus memastikan soal tata ruang dan ketersediaan lahannya. Lalu, tentu saja, Kementerian PUPR menjalankan tugas teknisnya. Kami juga berharap Kementerian Perumahan Rakyat bisa mempercepat proses pembangunan.”
Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membenarkan bahwa pengurangan penghuni pengungsian sudah mulai terlihat. Terutama di daerah-daerah dimana dana bantuan hunian sudah turun ke tangan warga.
“Contoh bagusnya di Tapanuli Selatan,” ungkap Tito.
“Dana dari BNPB sudah dicairkan dan langsung dibayarkan. Efeknya, jumlah warga di posko pengungsian yang semula 21.000 jiwa, sekarang tinggal sekitar 4.000 saja.”
Secara keseluruhan, angka kerusakan memang masih besar. Tito menyebut data per 27 Desember: dari tiga provinsi terdampak, tercatat sekitar 213 ribu rumah mengalami kerusakan.
Rinciannya, rusak ringan 68.850 unit, rusak sedang 37.520, dan yang rusak berat mencapai 56.108 unit. Angka-angka itu menjadi pijakan nyata untuk kerja-kerja pemulihan ke depan.
Artikel Terkait
Anggota Polri Meninggal dengan Luka Mencurigakan, Propam Polda Sulsel Lakukan Visum dan Pemeriksaan
Aktivis HAM Soroti Ironi Anggaran Negara Usai Tragedi Anak Meninggal karena Tak Mampu Beli Alat Tulis
AC Milan Tersungkur di San Siro, Kalah 0-1 dari Parma
Pakar Hukum Soroti Daya Paksa dan Krisis Kepercayaan Publik pada Aparat