Di Aceh Tamiang, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, punya penekanan khusus. Pasca bencana, yang paling genting adalah memulihkan tempat tinggal. Baik itu hunian sementara, apalagi hunian tetap untuk warga Sumatera yang terdampak. Itu kuncinya.
Namun begitu, fokusnya tak cuma pada rumah yang hancur total. AHY bilang, perbaikan rumah dengan kerusakan ringan dan sedang juga harus jalan beriringan. Logikanya sederhana: semakin cepat rumah-rumah itu bisa ditinggali, semakin cepat pula pengungsian bisa dikosongkan.
“Secara intuisi, kita pasti prioritaskan yang rusak berat dulu,” ujar AHY.
“Tapi sebetulnya, kalau perbaikan rumah rusak ringan bisa dipercepat, justru akan mengurangi jumlah kamp pengungsian dengan signifikan. Mereka bisa lebih cepat pulang.”
Pernyataan itu disampaikannya dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, Kamis lalu.
Menurut AHY, fase rekonstruksi pascadarurat kini jadi agenda utama. Di sini, kolaborasi antar kementerian memegang peran vital. Tanpa sinergi yang solid, upaya membangun kembali akan tersendat.
“Ambil contoh Kementerian ATR/BPN,” jelasnya.
Artikel Terkait
Setengah Juta Orang Serbu Jogja di Malam Tahun Baru, Sampah Justru Turun
Longsor Mengganas: Bencana Paling Mematikan Sepanjang 2025
Ribuan Pengunjung Ragunan Terjebak Macet Usai Serbu Hari Pertama 2026
Diplomasi Digital: Perlukah Indonesia Ambil Alih Kendali Data Warganya?