Di sinilah Prabowo mulai mengkritik. Ia mempertanyakan efisiensi pengiriman air dengan tangki yang menurutnya boros BBM. Solusi pengeboran, meski mahal di muka, justru lebih ia sukai.
"Ya kalau tangki air itu kita keluar BBM lagi. Itu kalau 100 meter biayanya berapa per bor?" tanyanya.
"Lengkap?"
Maruli kemudian menambahkan soal tantangan teknisnya. Proses pengeboran ternyata tidak instan, sangat tergantung kondisi tanah di lapangan. Bisa cuma dua minggu, bisa juga lebih lama dari itu.
Mendengar angka Rp 150 juta per titik, Prabowo justru berkomentar lain.
Suharyanto menegaskan bahwa pekerjaannya tetap dibayar. Menurut pengalaman Prabowo sendiri di masa lalu, angka segitu memang terhitung wajar.
Menjelang akhir diskusi, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan langkah baru. Sudah dibentuk Satgas Kuala yang khusus menangani masalah air di daerah itu. Dalam dua pekan ke depan, satgas ini akan bekerja dengan dua kapal yang dilengkapi water treatment system untuk mengolah air langsung dari sungai.
Prabowo pun menyambut baik rencana ini. "Bagus, koordinasi sama gubernur ya daerah masing-masing semua," pesannya menutup pembahasan. Persoalan air di Aceh Tamiang, tampaknya, masih akan terus dipantau dari dekat.
Artikel Terkait
Bupati Aceh Tamiang Minta 42 Ribu Rumah Huntap ke Prabowo Pascabanjir
Belatung di Piring Sekolah: Saat Negara Alergi Kritik, Rakyat Hanya Bisa Bersyukur
AHY Soroti Strategi Baru: Perbaikan Rumah Ringan Bisa Percepat Pengosongan Pengungsian
Somasi SBY ke Budhius M Piliang: Gosip Ijazah Jokowi yang Tak Kunjung Padam