Kabut tipis masih menyelimuti Aceh Tamiang pagi itu ketika Presiden Prabowo Subianto tiba. Kamis pertama di tahun baru itu, agenda utamanya jelas: meninjau langsung wilayah yang porak-poranda diterjang bencana. Ia menyusuri lokasi, memeriksa progres pembangunan hunian untuk warga yang kehilangan tempat tinggal. Suasana terasa haru, namun juga penuh harap.
Namun begitu, kunjungan lapangan bukan satu-satunya agenda. Tak lama setelahnya, di sebuah ruang pertemuan, digelarlah rapat koordinasi penanganan pascabencana. Agenda ini penting untuk menyinkronkan semua langkah dari pusat hingga daerah.
Sekretaris Kabinet, Letkol Teddy Indra Wijaya, yang membuka rapat itu menyampaikan pokok bahasan.
"Dan pada hari ini juga, pertama akan dilakukan rapat koordinasi bersama Gubernur, Wakil Gubernur, Provinsi Aceh beserta Bupati Tamiang dan jajaran," ujarnya.
Setelah pembukaan, Teddy lalu menyerahkan giliran kepada Rosan Roeslani, sang CEO BPI Danantara. Tugas Rosan adalah melaporkan perkembangan terkini soal pembangunan rumah bagi korban.
Rosan pun mengambil alih. Alih-alih langsung bertele-tele dengan presentasi, ia lebih dulu memutar sebuah video. Layar di ruangan itu menampilkan visualisasi dan gambaran nyata tentang rumah-rumah yang sedang dan akan dibangun. Sebuah upaya untuk memberi gambaran yang lebih konkret.
Namun, di tengah pemutaran video, sesuatu yang khas terjadi. Lantunan azan zuhur mulai berkumandang, mengisi sudut-sudut ruangan. Rapat pun dengan sendirinya dihentikan sejenak, memberi waktu untuk urusan yang lebih utama. Baru setelah suara azan berakhir, suasana rapat kembali hidup dan pembahasan dilanjutkan seperti biasa.
Artikel Terkait
DJP Resmi Ingatkan Publik Waspadai Gelombang Penipuan Berkedok Institusi Pajak
HIPMI Soroti Penyusutan Kelas Menengah Pengusaha di Sidang Pleno Makassar
Tembok Mewah Ambruk di Kalibata, Halaman SMPN 182 Rusak Parah
Gattuso Siapkan Daftar 50 Pemain untuk Seleksi Playoff Piala Dunia 2026