Menurut sejumlah pejabat, pesan yang ingin disampaikan sederhana namun dalam: identitas bangsa ini lebih besar dari satu orang. Ia berakar pada kehidupan sehari-hari rakyatnya, pada tanah dan hasil buminya, bukan pada kultus individu.
Memang, kepercayaan itulah yang nyaris hilang. Setelah lebih dari satu dekade konflik dan sanksi, nilai Lira terjun bebas. Dolar AS pun jadi pilihan utama banyak orang untuk menyimpan nilai atau bertransaksi. Pemerintah berupaya membangun kembali hubungan emosional itu lewat simbol-simbol yang akrab.
Namun begitu, mengganti sampul buku tak lantas memperbaiki isinya. Redenominasi dan desain baru mungkin mempermudah urusan harian, tapi ia bukan obat ajaib bagi inflasi tinggi atau masalah struktural kronis seperti pengangguran dan produksi yang mandek. Uang baru bisa jadi alat transaksi yang lebih praktis, tapi perbaikan ekonomi yang sesungguhnya membutuhkan langkah-langkah yang jauh lebih mendasar dan berani.
Pada akhirnya, uang kertas itu hanyalah kertas. Ia baru bermakna ketika ada stabilitas dan kepercayaan yang nyata di baliknya. Suriah sedang mencoba menulis ulang ceritanya, dimulai dari lembaran uang yang baru. Perjalanan sesungguhnya, tentu saja, masih panjang.
Artikel Terkait
Prabowo Buka Pintu Lebar: Silakan Bantu Korban Bencana Sumatera
Tender Rp15 Miliar di Setda Tangerang Dikuliti, CBA Beberkan Modus Rekayasa dari Awal
Prabowo di Aceh Tamiang: Antara Beban Bencana dan Tanggung Jawab 280 Juta Jiwa
Akademikus Rismon Sianipar Buka Suara: Wapres Gibran Tak Lulus SMA dalam Buku Baru