56 Jurnalis Gaza Gugur di 2025, Korban Jiwa Media Palestina Tembus 275 Orang

- Kamis, 01 Januari 2026 | 05:50 WIB
56 Jurnalis Gaza Gugur di 2025, Korban Jiwa Media Palestina Tembus 275 Orang

Gaza – Tahun 2025 mencatatkan sebuah fakta yang suram. Kantor Media Pemerintah Gaza baru saja merilis data yang membuat kita terhenyak: 56 jurnalis tewas dibunuh. Mereka mati saat bekerja, melaporkan realita yang terjadi di tanah mereka sendiri.

Dengan angka terbaru ini, korban jiwa di kalangan pekerja media Palestina sejak konflik dimulai melonjak menjadi 275 orang. Sungguh, sebuah angka yang sulit dicerna.

Namun begitu, luka dan derita tak berhenti di sana. Nasib tiga jurnalis lainnya masih gelap, hilang tak tentu rimbanya. Sementara itu, lebih dari 420 rekan mereka harus menanggung cedera dari yang ringan sampai yang parah hanya karena menjalankan tugas jurnalistik. Risikonya memang ekstrem, nyaris tak terbayangkan.

Di sisi lain, ada pula yang mengalami penyiksaan. Sekitar 50 jurnalis ditangkap dan disiksa, sebuah tindakan yang jelas-jelas melanggar aturan internasional soal perlindungan bagi pers di zona konflik. Ini bukan kebetulan. Polanya terlihat: upaya sistematis untuk membungkam suara.

Kantor Media itu sendiri dengan tegas menyatakan, angka-angka ini bukan sekedar statistik. Mereka menilai ini sebagai penargetan yang disengaja.

"Pasukan Israel berusaha mematikan kebenaran," begitu bunyi pernyataan mereka. Caranya? Lewat pembunuhan, intimidasi, dan penahanan. Semua itu, menurut mereka, adalah pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan.

Meski dihimpit bahaya, semangat para jurnalis Palestina tak padam. Mereka disebutkan tetap teguh, berjuang untuk kesadaran dan martabat bangsanya. Mereka adalah pembawa fakta yang terus mengungkap kejahatan perang kepada dunia, di saat upaya untuk memutarbalikkan kenyataan kian menjadi.

Pelepasan data ini sengaja dilakukan bertepatan dengan momen yang sarat makna: menjelang Hari Penghargaan Jurnalis Palestina. Tanggal 31 Desember nanti, hari itu akan diperingati untuk menghormati para pembela kebenaran yang bekerja dengan integritas tinggi di tengah kondisi terberat sekalipun. Mereka berdiri di garis depan, bukan dengan senjata, tapi dengan pena dan kamera.

Peringatan tahun ini, kata Kantor Media, terasa sangat berbeda. Situasinya luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya. Genosida yang sudah berjalan dua tahun disertai dengan penyerangan terstruktur terhadap jurnalis dan media. Seolah ada upaya putus asa untuk menghapus kebenaran dari panggung global.

Semua ini terjadi. Dan angka-angka tadi adalah saksi bisunya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar