Pengamat Intelijen dan Geopolitik: Ada "Penumpang Gelap" di Balik Teror ke Influencer dan Aktivis
JAKARTA – Rentetan teror yang menimpa sejumlah influencer dan aktivis belakangan ini, bagi sebagian kalangan, terasa janggal. Bukan sekadar peristiwa kriminal biasa. Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah punya pandangan yang lebih tajam. Ia mencium adanya “penumpang gelap” yang sengaja menunggangi situasi. Tujuannya? Membangun opini negatif terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang masih terbilang baru.
Menurut Amir, polanya menarik. Teror ini muncul beruntun, menargetkan tokoh dengan latar belakang berbeda-beda. Hal ini, katanya, mengindikasikan sebuah rekayasa persepsi publik. Semua diarahkan pada satu kesimpulan yang sama: seolah-olah negara atau pemerintahan Prabowo-lah dalang di balik aksi intimidatif itu.
“Ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ada pola dan momentum yang dimainkan,” ujar Amir Hamzah, Rabu (31/12/2025).
“Teror terhadap influencer dan aktivis ini kemudian diarahkan untuk membentuk opini bahwa pemerintahan Prabowo anti-kritik dan represif. Padahal itu tidak sesuai dengan karakter Prabowo,” tambahnya.
Beberapa kasus yang mencuat dalam beberapa hari terakhir memang cukup menghebohkan. Ada Iqbal Damanik dari Greenpeace Indonesia yang mengaku dapat ancaman teror dari orang tak dikenal. Lalu Sherly Annavita, seorang influencer, yang diduga menerima teror usai menyampaikan pandangannya soal penanganan bencana. Yang paling ekstrem, rumah DJ Donny bahkan jadi sasaran pelemparan bom molotov.
Nah, kasus-kasus ini langsung menyebar bak api di ladang ilalang di media sosial. Narasi yang muncul pun seragam: mengkritik pemerintah sama saja mengundang ancaman keselamatan.
Di sisi lain, Amir Hamzah melihatnya dari kacamata yang berbeda. Dari sudut pandang intelijen, peristiwa semacam ini seringkali adalah alat. Alat untuk operasi psikologis atau psyops, yang tujuannya melemahkan legitimasi sebuah pemerintahan yang baru saja terbentuk.
“Dalam dunia geopolitik dan intelijen, menciptakan ketakutan dan rasa tidak aman di ruang publik adalah cara klasik untuk mendelegitimasi kekuasaan,” jelasnya.
“Teror tidak harus dilakukan negara, cukup dibiarkan seolah-olah negara yang bertanggung jawab.”
Kelompok “penumpang gelap” ini, menurut analisisnya, sangat cerdik memanfaatkan beberapa hal. Mereka main di area sensitif publik soal HAM dan kebebasan berpendapat. Mereka pakai figur influencer yang punya basis massa luas. Dan mereka manfaatkan momentum pemerintahan Prabowo yang masih dalam tahap konsolidasi awal.
“Begitu isu ini dilempar, publik langsung diarahkan pada satu kesimpulan: ‘rezim baru menakutkan’. Ini framing yang disengaja,” tegas Amir.
Amir sendiri menepis anggapan bahwa Prabowo punya kecenderungan otoriter. Justru sebaliknya, ia menggambarkan Prabowo sebagai figur yang sangat menghormati demokrasi. “Prabowo itu seorang demokrat. Beliau dididik dalam tradisi Barat yang sangat menghormati kebebasan berekspresi,” katanya.
Sejarah panjang Prabowo dalam politik, tambahnya, adalah bukti. Ia kerap jadi sasaran kritik keras, stigma, bahkan fitnah. Tapi tidak pernah ada pembalasan dengan cara membungkam suara.
“Kalau mau jujur, Prabowo adalah salah satu tokoh yang paling sering dihantam isu, tapi justru tetap konsisten bicara soal demokrasi.”
Namun begitu, Amir memperingatkan bahaya yang mengintai. Membiarkan opini sesat ini berkembang tanpa klarifikasi dan penegakan hukum yang tegas justru akan merugikan semua pihak. Trust atau kepercayaan publik pada negara bisa terkikis, berpotensi memicu chaos dan delegitimasi institusi.
Karena itu, ia menekankan pentingnya aparat mengusut tuntas kasus-kasus ini secara transparan. Agar tidak dimanfaatkan terus oleh pihak-pihak yang ingin mengacaukan stabilitas.
Di akhir analisisnya, Amir menegaskan satu hal. Kelompok penumpang gelap ini, dalam pandangannya, adalah perusak demokrasi sejati.
“Mereka bukan membela kebebasan berbicara, tapi justru merusaknya dengan menciptakan ketakutan. Demokrasi tidak dibangun lewat teror, tetapi lewat dialog dan hukum,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Bupati Bone Turun ke Pasar Pantau Harga Pokok Jelang Ramadhan
44 Warga Binaan Konghucu Terima Remisi Khusus Sambut Imlek 2026
17 Februari dalam Catatan Sejarah: Dari Tsunami Maluku 1674 hingga Kelahiran Buya Hamka dan Michael Jordan
Rooney Ingatkan Risiko Euforia United Strands, Cunha Tegaskan Fokus Hanya pada Poin