Demokrasi di Ujung Tanduk: Elite Sibuk Berhitung, Rakyat Hanya Jadi Penonton

- Rabu, 31 Desember 2025 | 09:20 WIB
Demokrasi di Ujung Tanduk: Elite Sibuk Berhitung, Rakyat Hanya Jadi Penonton

Elit Politik Hanya Memikirkan Nasib Mereka Sendiri, Bukan Rakyat!

✍🏻Setiya Jogja

Belakangan ini, publik lagi-lagi dibuat mengernyitkan dahi. Ada saja wacana yang muncul ke permukaan. Ambil contoh, usulan pemilihan kepala daerah lewat DPRD. Atau gagasan nyeleneh soal pemilu sepuluh tahun sekali katanya biar anggaran efisien. Belum lagi pernyataan blak-blakan tentang “balik modal” dari biaya politik yang dikeluarkan. Semua ini, kalau dicermati, punya benang merah yang sama: para elite di panggung politik semakin menjauh dari kehidupan riil rakyat kecil.

Memang, menjalankan demokrasi itu butuh biaya yang nggak sedikit. Tapi, alasan efisiensi anggaran sama sekali tidak bisa dipakai untuk mengurangi hak dasar rakyat dalam memilih. Rasanya kok aneh, ya. Ketika kedaulatan yang seharusnya di tangan rakyat malah ditarik-tarik kembali ke lingkaran elite. Alih-alih perbaikan sistem, yang terjadi justru kemunduran. Rakyat cuma jadi penonton yang bisu. Sementara itu, di dalam lingkar kekuasaan, mereka sibuk mengkalkulasi untung-rugi dan mengamankan investasi politik mereka.

Di sisi lain, ironinya makin kentara. Mereka yang duduk di kursi terhormat berkat suara rakyat, justru lebih sering membahas aturan main yang menguntungkan posisi mereka sendiri. Isu-isu yang sebenarnya menyentuh hidup orang banyak seperti pendidikan yang mahal, layanan kesehatan yang amburadul, atau sulitnya cari kerja seolah kehilangan greget. Kalah pamor oleh obrolan seputar masa jabatan dan mahalnya ongkos politik.

Kalau begini terus, apa jadinya? Kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi pasti bakal tergerus habis. Sejarah sudah sering membuktikan. Saat para elite sibuk membangun benteng untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, rakyat yang terpinggirkan akhirnya akan mencari jalan lain untuk didengar. Padahal, esensi demokrasi itu kan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Bukan jadi alat tawar-menawar segelintir orang yang berkuasa.

Apakah semua ini pertanda? Sebuah isyarat bahwa gelombang perubahan besar, semacam reformasi jilid dua, akan segera datang? Entahlah. Mungkin lebih baik kita tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar