Di sisi lain, ironinya makin kentara. Mereka yang duduk di kursi terhormat berkat suara rakyat, justru lebih sering membahas aturan main yang menguntungkan posisi mereka sendiri. Isu-isu yang sebenarnya menyentuh hidup orang banyak seperti pendidikan yang mahal, layanan kesehatan yang amburadul, atau sulitnya cari kerja seolah kehilangan greget. Kalah pamor oleh obrolan seputar masa jabatan dan mahalnya ongkos politik.
Kalau begini terus, apa jadinya? Kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi pasti bakal tergerus habis. Sejarah sudah sering membuktikan. Saat para elite sibuk membangun benteng untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, rakyat yang terpinggirkan akhirnya akan mencari jalan lain untuk didengar. Padahal, esensi demokrasi itu kan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Bukan jadi alat tawar-menawar segelintir orang yang berkuasa.
Apakah semua ini pertanda? Sebuah isyarat bahwa gelombang perubahan besar, semacam reformasi jilid dua, akan segera datang? Entahlah. Mungkin lebih baik kita tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.
Artikel Terkait
Motor Terbakar di Tengah Perempatan Maros, Keluarga Selamat
Iran Ajukan Prasyarat Keras Jelang Pembicaraan dengan AS di Islamabad
Bank Dunia: Ekspor Komoditas dan Subsidi BBM Jadi Bantalan Ekonomi Indonesia
Anggota DPR Desak Polri Tindak Tegas Premanisme Usai Kasus Pengeroyokan di Purwakarta