Zijin, raksasa tambang asal Tiongkok, kembali memperluas cengkeramannya di pasar global. Lewat anak usahanya, Zijin Mining Group Co., mereka sepakat membeli Allied Gold Corp. dengan nilai fantastis: CAD 5,5 miliar atau sekitar Rp 67 triliun. Langkah ini semakin mengukuhkan posisi mereka sebagai salah satu produsen emas dan tembaga terbesar di dunia.
Menurut laporan Bloomberg Selasa lalu, Allied punya aset yang menggiurkan. Perusahaan ini mengoperasikan tambang emas di Mali dan Pantai Gading, plus punya proyek pengembangan di Ethiopia. Nggak main-main, akuisisi ini termasuk yang terbesar dalam catatan, di mana investor Tiongkok membeli perusahaan tambang yang tercatat di Kanada.
Transaksi ini datang di saat yang tepat. Harga emas batangan sendiri sedang melonjak, bahkan sempat sentuh rekor perdana USD 5.000 per ons! Gejolak global rupanya mendorong banyak orang berlindung ke aset safe-haven. Saham Allied langsung meroket 4,4 persen, mencapai rekor tertinggi di Toronto.
Buat Zijin, ini adalah tambahan kekuatan yang signifikan. Tiga tambang baru dari Allied akan masuk ke portofolio mereka, dengan perkiraan produksi bisa mencapai 400.000 ons emas tahun lalu. Tambang Sadiola di Mali menyumbang separuh dari angka itu. Sebenarnya, Zijin sudah bukan nama baru di Afrika. Mereka sudah menggarap sejumlah proyek, mulai dari tembaga dan litium di Kongo hingga emas di Ghana.
Ketua Zijin Gold, Hongfu Lin, tampak optimis dengan masa depan aset-aset baru ini.
"Kurmuk, yang akan menjadi tambang emas skala industri pertama di Ethiopia dan Sadiola merupakan aset jangka panjang yang kami harapkan dapat memberikan produksi selama beberapa dekade," ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Ambisi Zijin jelas. Awal bulan ini saja mereka sudah menyatakan rencana agresif untuk melakukan akuisisi global, terutama di sektor emas dan tembaga. Target mereka? Pertumbuhan produksi dua digit untuk kedua logam berharga itu.
Namun begitu, jalan mereka tidak sepenuhnya mulus. Kanada, tempat Allied berbasis, belakangan memperketat aturan untuk investasi asing di sektor pertambangan. Aturan baru itu membatasi entitas milik negara asing dalam membeli atau mengambil alih aset mineral yang dianggap penting.
Bahkan, pada 2020 lalu, pemerintah Kanada pernah memblokir rencana Shandong Gold Mining Co. (juga dari Tiongkok) untuk mengakuisisi TMAC Resources. Alasannya klasik: kekhawatiran keamanan nasional, karena tambang tersebut terletak di wilayah utara Kanada.
Meski demikian, bukan berarti semua pintu tertutup. Masih ada kesepakatan yang lolos, contohnya akuisisi Osino Resources Corp. oleh Shanjin International Gold Co. pada tahun 2024 lalu.
Di balik layar, transaksi besar ini melibatkan banyak pemain keuangan ternama. Moelis & Company LLC jadi penasihat untuk Allied. Sementara di sisi Zijin, Royal Bank of Canada yang memberikan konsultasi. Bank of Nova Scotia juga terlibat, memberi masukan kepada komite khusus Allied.
Nah, kesepakatan senilai triliunan ini masih harus menunggu persetujuan akhir. Mereka butuh restu dari pemegang saham Allied dan otoritas Kanada, plus izin persaingan usaha dan regulasi dari berbagai yurisdiksi, termasuk tentu saja, dari Tiongkok sendiri. Prosesnya masih panjang, tapi langkah pertama sudah diambil.
Artikel Terkait
Intiland Lepas Seluruh Saham Anak Usaha Hotel Whiz Senilai Rp31,32 Miliar
Pemerintah dan OJK Resmikan Program PINTAR Reksa Dana untuk Dorong Literasi Investasi Mahasiswa
Wall Street Tertekan: Nasdaq Anjlok 0,79% Dipicu Kekhawatiran Masa Depan AI dan OpenAI Gagal Capai Target
BEI Hapus 11 Waran Terstruktur KGI Sekuritas dari Perdagangan per 11 Mei 2026