Belum Reda Bencana Alam di Aceh & Sumatera, Kini Muncul Teror Kemanusiaan: SaveSherlyAnnavita
Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Siang tadi, beranda Facebook saya tiba-tiba dihantam sebuah status. Ditulis oleh Sherly Annavita, dengan huruf kapital semua, kira-kira begini bunyinya: ‘SAYA DITEROR!!! YUK BAGIKAN AGAR JADI KESADARAN BERSAMA’. Langsung bikin merinding.
Rupanya, ini bukan sekadar keluh kesah biasa. Di laman itu, Sherly bercerita soal rentetan ancaman yang dia terima belakangan ini. Mulai dari teror telepon dan DM Instagram, sampai makian dari akun-akun bodong. Bahkan mobilnya disemprot cat merah. Gak cuma itu, ada juga yang ngirimin telur busuk plus pesan ancaman. Seram, kan?
Menurut pengakuannya, semua ini mulai terjadi setelah dia pulang dari Aceh. Sherly baru saja membagikan pengalaman langsungnya dari lokasi bencana ke beberapa media. Kebetulan, saya dan dia sempat satu panggung di acara ‘Rakyat Bersuara’ INEWS TV, Selasa malam lalu.
Nah, dalam acara itu, Sherly menyampaikan dua poin kritik yang menurutnya penting banget.
Pertama, soal hilangnya komando dari pusat. Dia melihat di lapangan, para relawan dan pemerintah daerah seperti kehilangan arah. Tanpa koordinasi yang jelas dari pusat, sinergi jadi berantakan. Padahal, menurut Sherly, komando itu vital banget untuk mengatur semua sumber daya yang ada, biar penanganan bencananya efektif.
Kedua, dia mendesak pemerintah agar menetapkan bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar sebagai bencana nasional. Artinya, pintu bantuan dari luar negeri harus dibuka lebar-lebar.
Soal bantuan asing ini, Sherly bicara blak-blakan. Dia membandingkannya dengan utang berbunga yang biasa kita terima. “Kalau bantuan tanpa bunga,” kira-kira begitu sindirnya, “masak iya ditolak?”
Saya sendiri di acara yang sama juga menyampaikan kritik, dengan mengingatkan fungsi pemimpin. Dalam Islam, pemimpin itu punya dua peran: sebagai Ra’in (pelayan) dan Junnah (perisai).
Dua peran ini saya kutip dari sabda Nabi Muhammad SAW:
(كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ)
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh)
Saya juga menyinggung akar masalahnya: deforestasi. Khususnya alih fungsi hutan jadi kebun sawit. Saya ingatkan audit besar-besaran di era Luhut Panjaitan dulu, yang menemukan 3,3 juta hektar sawit ilegal di dalam kawasan hutan. Alih-alih ditindak, malah diputihkan. Nah, lho.
Belum lagi gaya pejabat yang, di tengah nestapa warga, masih sibuk cari pencitraan. Dari urusan menggendong karung beras sampai klaim listrik sudah menyala yang kerap tak sesuai fakta di lapangan.
Dan anehnya, esok harinya setelah acara itu, Rabu sore tanggal 24, Presiden Prabowo tiba-tiba menggelar konferensi pers soal penyitaan uang triliunan rupiah dari sawit nakal. Langsung muncul pertanyaan di mana-mana: pelakunya mana? Kok cuma uangnya yang disita?
Ini yang bikin saya geram. Kalau mau ditimbang, kritik yang saya sampaikan di acara itu jauh lebih keras dan langsung ke pokok persoalan. Tapi nyatanya, para teroris pengecut mungkin antek oligarki ini cuma berani menarget yang dianggap lemah: seorang perempuan.
Padahal, saat ketemu langsung, aura Sherly justru penuh keberanian dan ketangguhan khas orang Aceh. Sangat jelas. Jadi, mereka salah besar kalau mengira teror akan membuatnya ciut.
Kita harus terus mendukung Sherly dan para pejuang kemanusiaan lain. Lawan oligarki jahat yang merusak hutan dan mengancam ruang hidup rakyat. Jangan pernah lelah untuk menjaga negeri ini. (")
Artikel Terkait
Libur Panjang Imlek-Ramadan Picu Antrean Puluhan Kilometer di Tol MBZ dan Japek
Amnesty Kritik Rencana Indonesia Ikut Board of Peace, Khawatir Legitimasi Israel
Mobil Terperosok ke Laut di Ulee Lheue, Pengemudi Selamat Dievakuasi Warga
Bareskrim Sita Koper Berisi Narkoba Milik Mantan Kapolres Bima di Rumah Polwan