Dopamin Digital: Saat Game Online Menggerogoti Masa Depan Anak

- Selasa, 30 Desember 2025 | 07:25 WIB
Dopamin Digital: Saat Game Online Menggerogoti Masa Depan Anak

Dulu, main game cuma jadi selingan sepulang sekolah. Sekarang? Bisa jadi masalah serius. Di balik gemerlap teknologi, ada fenomena yang diam-diam menggerogoti masa depan anak-anak: kecanduan game. Gadget yang mestinya jadi jendela ilmu, malah berubah jadi 'mesin waktu' yang membawa mereka jauh dari kenyataan.

WHO bahkan sudah memasukkan kecanduan game dalam daftar gangguan kesehatan mental, disebut "Gaming Disorder". Intinya, ini bukan lagi sekadar hobi. Ini penyakit perilaku. Cirinya jelas: kontrol diri hilang, prioritas hidup kacau, dan main terus meski dampak buruknya sudah terasa nyata.

Kasusnya makin banyak dan mengkhawatirkan. Di Bandung, seorang bocah kelas 5 SD ketahuan mencuri uang ibunya. Alasannya sederhana sekaligus mengerikan: takut kalah level dari teman-temannya di game online.

Lalu ada remaja SMP yang ngamuk dan menghancurkan TV di rumahnya. Pemicunya sepele: jaringan internet tiba-tiba mati di tengah-tengah match penting. Aksi amukannya sampai viral, jadi perbincangan nasional.

Seorang psikolog anak di Jakarta juga melaporkan tren yang sama. Kliennya, anak-anak usia 7 sampai 10 tahun, mulai menunjukkan gejala gangguan tidur, kecemasan, dan perilaku agresif. Akar masalahnya satu: game.

Di desa Jawa Tengah, seorang ayah hanya bisa geleng-geleng. Anaknya bolos sekolah berhari-hari, memilih menghabiskan waktu dari pagi sampai sore di warnet.

Memang, game sekarang dirancang bukan cuma untuk dimainkan, tapi untuk membuat pemain ketagihan. Sistem poin dan reward membanjiri otak dengan dopamin, sensasi senang yang bikin nagih. Di dunia maya, mereka bisa jadi pahlawan, diterima oleh komunitasnya hal yang mungkin sulit didapat di kehidupan nyata. Akibatnya, muncul obsesi untuk menang, lalu kecemasan kalau jauh dari game.

Menurut Dr. Kimberly Young, pelopor riset kecanduan internet, game online menawarkan "pelarian" yang sempurna bagi anak-anak.

“Game memberi mereka ruang untuk menjadi sosok yang diidamkan, sesuatu yang kerap tak mereka rasakan di dunia nyata,” katanya.

Sementara itu, neurosaintis Dr. Andrew Huberman punya penjelasan lebih dalam. Dopamin dari game, katanya, bisa mengacaukan sistem penghargaan alami otak. Aktivitas normal seperti belajar atau main di luar jadi terasa hambar, tidak memberi kepuasan yang sama.

Psikolog anak Seto Mulyadi pernah berpesan,

“Game itu sendiri bukan musuh. Tapi saat ia menggantikan kebahagiaan hidup anak yang sebenarnya, itu sudah jadi alarm bagi orang tua untuk bertindak.”

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Pertama, batasi waktu bermain. Saran para ahli, cukup 1-2 jam per hari dengan jeda istirahat. Kedua, orang tua harus jadi contoh. Jangan harap anak lepas dari gadget kalau ayah-ibunya sendiri sibuk dengan ponsel sepanjang hari.

Orang tua juga perlu aktif mengawasi jenis game yang dimainkan, pastikan kontennya sesuai usia, dan manfaatkan fitur parental control. Yang tak kalah penting, tawarkan alternatif kegiatan yang menarik. Olahraga, kesenian, atau kegiatan alam bisa jadi penyeimbang yang sehat.

Ciptakan juga momen bebas gadget dalam keseharian. Saat makan malam atau jalan-jalan di akhir pekan, misalnya. Momen ini penting untuk menguatkan ikatan dan mengurangi kebutuhan anak untuk 'kabur' ke dunia game.

Perhatikan juga tanda-tanda stres atau kecemasan pada anak. Seringkali, game hanyalah gejala, bukan penyebab. Mereka lari ke sana karena ada yang tidak beres di dunianya. Jika kecanduan sudah parah, jangan ragu minta bantuan profesional seperti psikolog.

Dalam perspektif agama, game bukan sesuatu yang haram. Tapi perlu kewaspadaan. Seperti diingatkan Imam Al-Ghazali, hiburan boleh asal tidak melalaikan kewajiban. Kebiasaan akan membentuk karakter. Kecanduan game bisa memupuk sifat malas dan lari dari tanggung jawab. Tugas orang tua bukan melarang mentah-mentah, tapi membimbing anak menemukan keseimbangan.

Peringatan datang juga dari dunia medis. Dr. Bradley Zicherman, psikiater anak dari Stanford, membandingkan kecanduan game dengan kecanduan judi atau narkoba. Mekanisme di otaknya serupa, menyerang jalur dopamin yang sama.

Penelitian lain yang dipimpin Dr. Yunyu Xiao menemukan, yang berbahaya bukan lamanya bermain, tapi hilangnya kendali. Kehilangan kontrol inilah yang berkaitan erat dengan gangguan emosi dan kecemasan pada remaja.

“Anak yang kecanduan game menunjukkan aktivitas otak yang lebih rendah di area pengambilan keputusan,” jelas Dr. Daniel Lopez dari sebuah tim peneliti di AS. “Mereka jadi kurang peka terhadap imbalan di luar game.”

Intinya, kita harus waspada. Anak yang sudah terlanjur kecanduan butuh penanganan serius. Sementara yang masih sekadar suka main, perlu terus diingatkan soal risikonya. Orang tua punya peran besar untuk memantau dan mengalihkan perhatian anak ke kegiatan yang lebih membangun.

Ini soal menjaga masa depan mereka, satu hari demi satu hari.

Wallahu alimun hakim.

Nuim Hidayat,
Direktur Forum Studi Sosial Politik

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar