SBY Ungkap Kekhawatiran: Situasi Global Mirip Pemanasan Perang Dunia
Lewat unggahan di akun X-nya, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan kegelisahan yang mendalam. Ia melihat dunia saat ini berjalan di tepi jurang yang berbahaya. Menurutnya, dinamika global beberapa tahun terakhir punya kemiripan yang mengkhawatirkan dengan situasi sebelum Perang Dunia I dan II meletus.
"Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini," tulis SBY di akun @SBYudhoyono pada Senin (19/1/2026).
"Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir."
Kekhawatirannya bukan tanpa alasan. SBY menyebut munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, persekutuan negara yang saling berhadapan, hingga pembangunan kekuatan militer secara besar-besaran. Geopolitik dunia, katanya, terasa benar-benar panas.
Memang, sejumlah titik panas sedang menyala. Operasi militer AS ke Venezuela awal Januari 2026 untuk menangkap Presiden Nicolás Maduro jadi salah satu pemicu. Tak lama berselang, Presiden Donald Trump juga membuat kehebohan dengan rencana mencaplok Greenland, disertai ancaman tarif dagang bagi yang menolak.
Itu belum semua. Perang Rusia-Ukraina yang sudah lima tahun berjalan belum menunjukkan ujung. Korea Utara baru meluncurkan rudal balistik. Ketegangan China-Taiwan makin mengeras. Ditambah lagi krisis Iran dan eskalasi perang saudara di Sudan yang dampaknya meluas ke negara tetangga. Dunia seperti menahan napas.
Doa Saja Tidak Akan Cukup
Di tengah situasi itu, SBY merasa kesadaran untuk mencegah perang justru minim. Banyak bangsa, katanya, terlihat tidak berdaya. Ia sendiri mengaku selalu berdoa agar perang besar apalagi yang melibatkan senjata nuklir bisa dihindari. Tapi ia sadar, doa saja tak cukup.
"Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 miliar manusia," tulisnya.
"Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia."
Ia lalu mengutip dua tokoh: Edmund Burke dan Albert Einstein. Intinya, kehancuran dunia sering terjadi bukan karena ulah orang jahat, tapi karena orang-orang baik memilih diam. "Kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang," tegas SBY.
Usulan Darurat untuk PBB
Lalu apa yang bisa dilakukan? SBY punya usulan konkret. Ia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk segera menggelar Sidang Umum darurat. Pertemuan itu harus menghadirkan para pemimpin dunia untuk membahas langkah nyata mencegah krisis global, termasuk potensi Perang Dunia III.
Ia tahu PBB sering dianggap tak berdaya. Tapi baginya, itu bukan alasan untuk berpangku tangan.
"Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat," jelasnya.
"Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu 'bagai berseru di padang pasir'. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini."
Reaksi dari Kubu Putin
Kekhawatiran SBY sepertinya punya dasar. Dari Moskow, reaksi keras muncul menyusul deklarasi bersama Prancis dan Inggris. Pada Selasa (6/1/2026), kedua negara NATO itu menandatangani deklarasi niat untuk mendirikan pusat militer di Ukraina jika gencatan senjata tercapai.
Viktor Medvedchuk, politikus pro-Kremlin yang diasingkan dari Ukraina, langsung memberi peringatan keras. Ia menyebut langkah itu sebagai provokasi politik berskala besar yang justru bisa memicu Perang Dunia Ketiga.
"Deklarasi niat untuk mengerahkan kontingen multilateral di Ukraina setelah konflik berakhir dapat dilihat sebagai provokasi politik berskala besar... yang pada akhirnya, membawa dunia ke perang dunia ketiga," tulis Medvedchuk, seperti dilaporkan kantor berita Tass.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov juga tak kalah keras. Ia menyebut negara-negara Barat tengah "mengobarkan histeria anti-Rusia" dan mendukung Ukraina hanya untuk terus melawan Rusia, meski mereka sendiri mungkin tidak percaya pada strategi itu.
Deklarasi Paris dan Kekhawatiran Baru
Deklarasi yang ditandatangani Presiden Prancis Emmanuel Macron, PM Inggris Keir Starmer, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky itu memang menuai pro-kontra. Pihak Barat bilang tujuannya mulia: mencegah agresi Rusia di masa depan dan mendukung kedaulatan Ukraina.
Tapi bagi Rusia, ini justru bumerang. Mereka melihatnya sebagai peningkatan risiko konfrontasi langsung dengan NATO. Putin dan sekutunya sudah berulang kali memperingatkan bahwa keterlibatan militer Barat di Ukraina adalah jalan menuju konflik yang lebih luas.
"Setelah gencatan senjata, Inggris dan Prancis akan mendirikan pusat-pusat militer di seluruh Ukraina dan membangun fasilitas terlindungi untuk senjata serta peralatan militer," kata Starmer tentang rencana mereka.
Zelensky menyambut baik. "Ini bukan sekadar kata-kata. Ada isi konkret," ujarnya.
Pertemuan di Paris itu juga dihadiri utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang menegaskan dukungan Trump terhadap protokol keamanan baru untuk Ukraina.
Akarnya: Ekspansi NATO dan Ketakutan Rusia
Konflik ini berakar panjang. NATO, yang awalnya dibentuk untuk menghadapi Uni Soviet, terus berekspansi ke Eropa Timur setelah Uni Soviet runtuh. Bagi Rusia, ini ancaman langsung. Apalagi ketika ada wacana Ukraina negara yang berbatasan langsung bergabung dengan NATO.
Rusia khawatir. Mereka takut sistem pertahanan dan senjata NATO akan ditempatkan tepat di perbatasannya, mempersempit ruang gerak strategis mereka. Ketegangan memuncak dan akhirnya meledak menjadi invasi penuh pada 2022.
Rusia menuntut jaminan Ukraina tidak akan pernah masuk NATO. Sementara AS dan sekutunya bersikukuh setiap negara berhak menentukan aliansinya sendiri. Dan di tengah kebuntuan itu, dunia menyaksikan, sambil merasakan udara yang makin pengap seperti yang dirasakan SBY.
Artikel Terkait
Polri-FBI Bongkar Sindikat Phishing Global, Kerugian Capai Rp350 Miliar
Pelaku Tabrak Lari Tewaskan Pengacara di Cianjur Ditangkap di Bogor
Chelsea Pecat Liam Rosenior Usai Hanya Tiga Bulan Melatih
Guru Besar Unhan Tegaskan Modernisasi Pertahanan Indonesia Sudah Jadi Kebutuhan Mutlak