Dikasih Fakta, Malah Kirim Ancaman
Itulah mungkin ungkapan yang pas untuk menggambarkan nasib akun Instagram @dj_donny belakangan ini. Sosoknya dikenal frontal. Gayanya keras, bahkan bagi sebagian orang terlihat nekat. Tapi siapa sangka, keberaniannya itu berbuah ancaman yang mengerikan.
Tanggal 29 Desember 2025 jadi hari yang tak terlupakan baginya. Bukan dapat hadiah, melainkan sebuah paket misterius. Isinya? Seekor ayam kampung berwarna hitam. Kepalanya sudah terpenggal. Jelas, ini bukan kiriman biasa. Ini teror. Di dalamnya, ada secarik kertas dengan tulisan yang bikin merinding: “Jangan memecah belah, nanti kalau tidak mau nasibmu seperti ayam ini.”
“Jangan memecah belah, nanti kalau tidak mau nasibmu seperti ayam ini.”
Pesan itu bukan candaan. Mustahil. Simbol kekerasan seperti ini cuma punya satu arti: upaya untuk membungkam. Menakut-nakuti. Membuat si penerima diam dan berhenti bersuara. Siapa pelakunya? Spekulasi pun bertebaran. Logikanya, ancaman semacam ini biasanya datang dari pihak yang merasa terusik dengan kritik-kritik pedas @dj_donny. Tapi sampai sekarang, belum ada yang bertanggung jawab. Belum ada klarifikasi resmi.
Kasus ini mengingatkan kita pada pola lama. Dulu, media Tempo juga pernah dapat kiriman serupa binatang sembelihan saat mereka gencar mengkritik penguasa. Polanya klise, tapi efektif menebar ketakutan. Ketika argumen tak lagi mempan, ancaman fisik jadi senjata andalan.
Memang ironis. Di satu sisi, kita sering mendengar klaim bahwa Indonesia adalah negara demokratis. Kebebasan berekspresi dijamin konstitusi. Tapi di lapangan, ceritanya beda. Menyuarakan kritik, apalagi ke pemerintah, masih punya risiko besar. Rasa takut dan teror jadi bayang-bayang yang nyaris tak pernah hilang.
Namun begitu, @dj_donny sepertinya tak mau menyerah. Lewat unggahan di akunnya, dia malah menunjukkan sikap yang tetap teguh. Ancaman itu justru tak membuatnya mundur.
Lalu, pertanyaan besar muncul. Di era pemerintahan baru nanti, apakah ruang untuk kritik akan semakin sempit? Apakah suara-suara yang berbeda akan dibungkam satu per satu? Atau jangan-jangan, demokrasi kita cuma jadi slogan kosong tanpa perlindungan nyata bagi warganya yang berani bersuara?
Hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi satu hal pasti: kiriman ayam tanpa kepala itu adalah pengingat kelam bahwa kebebasan berbicara di negeri ini masih rapuh. Sangat rapuh.
Artikel Terkait
Pemkab Bone Optimalkan Transaksi Digital untuk Kendalikan Inflasi
Indeks Korupsi Indonesia Anjlok ke 34, Jatuh di Bawah Rata-Rata Global
38 Ribu Peserta BPJS PBI di Makassar Dinonaktifkan untuk Pembenahan Data
Partai Gema Bangsa Tawarkan Konsep Anti-Feodalisme Menuju Pemilu 2029