Dan komposisi pengurusnya pun beragam. Ada yang dari partai politik, birokrat, ulama, sampai pengusaha dan pemikir. Semua diajak.
Di sisi lain, Amran tak mau memutus kontinuitas. Program lama seperti Desa Madani dan pelatihan dai-daiyah akan dilanjutkan. Fokusnya pada kesejahteraan para dai dan pembinaan spiritual di tingkat akar rumput.
Jaringan Parmusi yang hingga ke desa, kata Amran, punya fungsi strategis lain: merekam implementasi kebijakan pemerintah di lapangan. Sebagai semacam 'sensor' untuk memastikan program presiden benar-benar jalan, tidak mandek di birokrasi.
Satu hal yang ditekankan Amran: meski berbasis Islam, Parmusi hadir untuk semua rakyat Indonesia. Tanpa pandang agama, suku, atau daerah.
Di akhir wawancara, ia mengingatkan pentingnya stabilitas. Masyarakat diajak untuk tak gampang terprovokasi hoaks yang merusak.
Kepemimpinan Ali Amran di Parmusi akan berjalan untuk periode 2025-2030. Ia menggantikan kepemimpinan almarhum Usama Hisyam, yang sempat diteruskan sementara oleh Prof. Bachtiar Effendy. Perjalanan panjang menanti.
Artikel Terkait
Israel Bantah Keterlibatan dalam Insiden Tewaskan Tiga Prajurit TNI di Lebanon Selatan
TNI Berikan Santunan Lebih dari Rp1,8 Miliar untuk Tiga Prajurit Gugur di Lebanon
Mulai 2026, WFH ASN Diiringi Aturan Respons 5 Menit dan Pelacakan Lokasi
Harga Kedelai Impor Melonjak, Perajin Tempe Jember Pangkas Produksi dan Tenaga Kerja