Di sisi lain, perubahan kultural yang diharapkan tak kunjung datang. Kelas menengah malah menyusut, terhimpit ekonomi, dan jadi makin pragmatis. Ketika urusan bertahan hidup jadi prioritas, moral publik pun ikut merosot. Sinisme memang merajalela, tapi jangan salah itu bukan bentuk kesadaran politik. ITU KELELAHAN KOLEKTIF belaka. Publik sudah enggan berharap, mereka kini cuma berhitung. Tak lagi percaya, hanya menyesuaikan diri. Ini bukan kemajuan, melainkan sekadar mekanisme bertahan hidup yang muram.
Mungkin SBY sekarang menyesal. Kenapa dulu tidak mendorong anaknya lebih awal? Jokowi membuktikan bahwa segalanya bisa dilakukan tanpa beban moral, tanpa rasa sungkan, dan tetap aman asalkan ekosistem kekuasaan terjaga solidnya.
Jadi, jangan harap perubahan besar akan datang dari pergantian rezim atau figur baru dalam waktu dekat. Itu hampir mustahil. Yang masih mungkin adalah perubahan di level mikro. Dari individu, komunitas kecil, profesional, atau birokrat menengah yang memilih untuk tidak ikut membusuk. Dampaknya memang kecil, tidak heroik, dan jarang viral. Tapi itulah satu-satunya RUANG RASIONAL yang masih tersisa dan bernapas.
Kesimpulannya pahit, tapi harus diakui.
Saya tidak lagi optimis pada elit.
Saya juga tak percaya pada perubahan kultural yang massal.
Satu-satunya yang membuat saya masih berharap adalah KETAHANAN akal sehat individu-individu yang memilih TETAP WARAS, justru ketika sistem memberi insentif untuk ikut rusak.
Cukupkah itu untuk menyelamatkan negara?
Secara realistis, saya belum tahu.
(Selesai)
Artikel Terkait
PSM Makassar Siapkan 5.193 Tiket Online untuk Duel Sengit Kontra Persis Solo
Perajin Tegal Pangkas Ukuran Tahu Imbas Harga Kedelai Impor Melonjak
Selebrasi Ole Romeny Viral, Jadi Inspirasi dan Sorotan Publik
Pemuda Pencuri Kabel Tersengat 20.000 Volt di Gardu Listrik Jambi