"Kalau gak dikasih panggung buat mentas kan cuma-cuma jadinya. Kita gak bisa buat nunjukin karya-karya kita gitu," ujarnya.
Harapannya sederhana: agar perhatian terhadap Tanjidor dan budaya Betawi bisa lebih besar lagi dari pihak terkait.
Di barisan yang sama, ada Bidin yang sudah 47 tahun. Dialah salah satu senior di kelompok itu, bahkan sudah empat generasi terlibat. Bidin mulai tertarik main Tanjidor sejak 2012, terpikat oleh bentuk alat musiknya yang antik dan unik.
"Jadi ngeliat alatnya juga antik-antik gitu kan ya, dari bass cobra ini kan bener-bener menarik juga gitu, belum trombon, klarinet, piston. Itu kan alat perkusi itu alatnya orang-orang Eropa. Jadi kita tertarik tuh. Ikut lah gitu belajar bisa ya ikut," kenang Bidin.
Menurutnya, regenerasi di sanggar mereka masih berjalan. Masih ada yang mau belajar. Tapi ia menegaskan, ini bukan cuma hobi. Ini upaya menjaga identitas.
"Emang buat ngelestariin budaya aja. Nah jadi supaya jangan putus lah gitu budaya gitu," tegasnya.
Pesan untuk anak muda jelas: jangan sampai terputus dari akar budaya sendiri. Dukungan pemerintah pun ia rasakan. Bidin bahkan masih ingat betul ketika kelompoknya pernah tampil di Istana Negara di era Presiden Jokowi, tepat pada acara Sumpah Pemuda.
Jadi, di tengah gemerlap Jakarta yang modern, suara Tanjidor pagi itu bukan sekadar pengisi waktu. Ia adalah pengingat. Bahwa di balik gedung-gedung tinggi dan hiruk-pikuk metropolitan, denyut budaya Betawi masih terdengar. Selama masih ada yang mau meniupkan nadanya di jalanan, ia akan tetap hidup.
Artikel Terkait
Kevin Diks Jadi Sorotan Usai Insiden Penalti yang Tentukan Kekalahan Indonesia
Nenek di Bondowoso Tewas Tersambar Petir di Dalam Rumah
Angin Puting Beliung Rusak RSUD dan Puluhan Rumah di Jombang
Timnas Indonesia Takluk Tipis 0-1 dari Bulgaria di Final FIFA Series 2026