Bundaran HI pagi itu tetap ramai, meski libur Natal dan Tahun Baru 2026 masih berlangsung. Suasana Car Free Day memang selalu semarak. Ada yang berlari, bersepeda pelan-pelan, atau sekadar jalan-jalan keluarga. Di tengah keriuhan itu, sekelompok orang dengan pakaian oranye terang dan songkok hitam rapi langsung mencolok mata.
Mereka bukan pengamen biasa. Di tangan mereka, alat musik tiup seperti trompet dan klarinet berkilau diterpa sinar matahari pagi. Ini adalah pemain Tanjidor, musik tradisional Betawi yang sedang berkeliling di jantung Jakarta.
Lantunan musik mereka segera memecah kesibukan CFD. Nadanya riang, tapi membawa beban sejarah yang panjang. Beberapa pengunjung berhenti, lalu mengangkat ponsel untuk merekam. Kelompok ini ternyata berasal dari Sanggar Betawi Aljabar yang markasnya di Tangerang.
Fajar Hardian, salah satu pemainnya yang berusia 30 tahun, menyeka keringat sambil tetap memegang alat musiknya.
"Sanggar Betawi Aljabar nama grupnya," katanya.
Ia bercerita kalau hari itu mereka dapat panggilan untuk meramaikan CFD. Bagi MURIANETWORK.COM, Tanjidor lebih dari sekadar hiburan. Ini soal menjaga budaya agar tidak hilang ditelan zaman. Tapi tantangannya nyata. Minat anak muda, menurutnya, sudah jauh berkurang.
"Ya kita sih memang buat mempertahankan gitu, kebudayaan. Sebab kan kalau memang kita lihat di zaman sekarang ini ya, mana mau sih ya anak-anak zaman sekarang main Tanjidor kayak gini," ucap Fajar.
Karena itulah, setiap panggung sekecil apa pun sangat berarti. Itu jadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa tradisi ini masih hidup.
"Kalau gak dikasih panggung buat mentas kan cuma-cuma jadinya. Kita gak bisa buat nunjukin karya-karya kita gitu," ujarnya.
Harapannya sederhana: agar perhatian terhadap Tanjidor dan budaya Betawi bisa lebih besar lagi dari pihak terkait.
Di barisan yang sama, ada Bidin yang sudah 47 tahun. Dialah salah satu senior di kelompok itu, bahkan sudah empat generasi terlibat. Bidin mulai tertarik main Tanjidor sejak 2012, terpikat oleh bentuk alat musiknya yang antik dan unik.
"Jadi ngeliat alatnya juga antik-antik gitu kan ya, dari bass cobra ini kan bener-bener menarik juga gitu, belum trombon, klarinet, piston. Itu kan alat perkusi itu alatnya orang-orang Eropa. Jadi kita tertarik tuh. Ikut lah gitu belajar bisa ya ikut," kenang Bidin.
Menurutnya, regenerasi di sanggar mereka masih berjalan. Masih ada yang mau belajar. Tapi ia menegaskan, ini bukan cuma hobi. Ini upaya menjaga identitas.
"Emang buat ngelestariin budaya aja. Nah jadi supaya jangan putus lah gitu budaya gitu," tegasnya.
Pesan untuk anak muda jelas: jangan sampai terputus dari akar budaya sendiri. Dukungan pemerintah pun ia rasakan. Bidin bahkan masih ingat betul ketika kelompoknya pernah tampil di Istana Negara di era Presiden Jokowi, tepat pada acara Sumpah Pemuda.
Jadi, di tengah gemerlap Jakarta yang modern, suara Tanjidor pagi itu bukan sekadar pengisi waktu. Ia adalah pengingat. Bahwa di balik gedung-gedung tinggi dan hiruk-pikuk metropolitan, denyut budaya Betawi masih terdengar. Selama masih ada yang mau meniupkan nadanya di jalanan, ia akan tetap hidup.
Artikel Terkait
Mantan Menag Yaqut Beri Klarifikasi ke BPK Soal Dugaan Kerugian Negara dari Kuota Haji
Pemerintah Intervensi di Hulu untuk Stabilkan Harga Ayam dan Telur
Polemik Proyek Kapal KKP dan Menkeu Berakhir Setelah Klarifikasi Langsung
Curah Hujan Tinggi Picu Banjir 1,5 Meter di Dua Kecamatan Cirebon