Ketinggalan di Usia Dua Puluhan: Mengapa Perjalananmu Tak Perlu Dibandingkan

- Minggu, 28 Desember 2025 | 03:06 WIB
Ketinggalan di Usia Dua Puluhan: Mengapa Perjalananmu Tak Perlu Dibandingkan

Usia dua puluhan. Rasanya seperti berada di persimpangan yang ramai, sementara di sekeliling kita, teman-teman seangkatan seolah sudah menemukan jalannya masing-masing. Media sosial makin menjadi, membanjiri kita dengan foto wisuda, pengumuman pekerjaan mentereng, dan pencapaian finansial yang bikin kita bergumam, "Kapan giliran aku?"

Perasaan ini, percayalah, jauh lebih umum daripada yang kamu kira. Bukan cuma kamu yang mengalaminya. Tekanannya datang dari mana-mana. Harapan keluarga yang ingin kita cepat sukses, lingkungan pertemanan yang kompetitif, dan ya, algoritma media sosial yang dengan cerdasnya hanya menyoroti momen terbaik hidup orang lain. Kita sering melihat highlight reel orang lain dan membandingkannya dengan behind the scene kita sendiri yang masih berantakan. Padahal, perjalanan mereka yang terlihat mulus itu mungkin baru sepuluh meter dari garis start, sementara kita baru saja mengambil ancang-ancang.

Fase peralihan ini memang bikin pusing. Banyak dari kita masih benar-benar mencari arah, mencoba-coba, bahkan merasa salah masuk jurusan atau pekerjaan. Yang bikin makin berat, kegagalan dan kebimbangan jarang diangkat ke permukaan. Akibatnya, mereka yang belum "sampai" merasa sendiri dan tersesat.

Namun begitu, ada satu hal penting yang sering kelewat: waktu setiap orang itu berbeda. Jalurnya juga unik. Ada yang menemukan passion-nya di usia 22, ada yang baru menemukan titik terang di usia 30-an. Itu bukan tanda kegagalan, hanya perbedaan ritme.

Daripada sibuk membandingkan peta perjalanan kita dengan milik orang lain, mungkin lebih baik fokus pada langkah kita sendiri. Itu jauh lebih menenangkan.

Coba mulai dari hal-hal kecil yang bisa kita kendalikan. Perbaiki kebiasaan tidur, coba ikut kursus singkat yang menarik, atau sekadar lebih rajin olahraga. Jaga juga kesehatan mental. Nggak masalah kalau pelan, yang penting kita tetap bergerak maju, sekecil apa pun langkahnya.

Pada akhirnya, perasaan "ketinggalan" itu hanyalah perasaan. Bukan fakta mutlak yang akan mengunci masa depan kita. Hidup ini bukan lomba lari 100 meter di mana yang tercepat menang. Ini lebih seperti pendakian panjang, di mana setiap orang punya kecepatan, rute, dan pemandangan yang berbeda untuk dinikmati. Selama kita masih mau melangkah, masih ada begitu banyak kesempatan di depan sana yang menunggu untuk diraih.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar