Usia dua puluhan. Rasanya seperti berada di persimpangan yang ramai, sementara di sekeliling kita, teman-teman seangkatan seolah sudah menemukan jalannya masing-masing. Media sosial makin menjadi, membanjiri kita dengan foto wisuda, pengumuman pekerjaan mentereng, dan pencapaian finansial yang bikin kita bergumam, "Kapan giliran aku?"
Perasaan ini, percayalah, jauh lebih umum daripada yang kamu kira. Bukan cuma kamu yang mengalaminya. Tekanannya datang dari mana-mana. Harapan keluarga yang ingin kita cepat sukses, lingkungan pertemanan yang kompetitif, dan ya, algoritma media sosial yang dengan cerdasnya hanya menyoroti momen terbaik hidup orang lain. Kita sering melihat highlight reel orang lain dan membandingkannya dengan behind the scene kita sendiri yang masih berantakan. Padahal, perjalanan mereka yang terlihat mulus itu mungkin baru sepuluh meter dari garis start, sementara kita baru saja mengambil ancang-ancang.
Fase peralihan ini memang bikin pusing. Banyak dari kita masih benar-benar mencari arah, mencoba-coba, bahkan merasa salah masuk jurusan atau pekerjaan. Yang bikin makin berat, kegagalan dan kebimbangan jarang diangkat ke permukaan. Akibatnya, mereka yang belum "sampai" merasa sendiri dan tersesat.
Namun begitu, ada satu hal penting yang sering kelewat: waktu setiap orang itu berbeda. Jalurnya juga unik. Ada yang menemukan passion-nya di usia 22, ada yang baru menemukan titik terang di usia 30-an. Itu bukan tanda kegagalan, hanya perbedaan ritme.
Artikel Terkait
Timnas Iran Gelar Aksi Diam Bawa Tas Sekolah, Berduka untuk 165 Korban Anak di Minab
Antonelli Rebut Pole Position, Grid Suzuka 2026 Diwarnai Kejutan
Justin Hubner: Indonesia Terasa Seperti Rumah Setiap Kali Dipanggil Timnas
Hendropriyono Kenang Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan Sipil dengan Jiwa Militan