Kasus pembunuhan mahasiswi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Banjarmasin akhirnya mulai menemui titik terang. Korban, seorang perempuan berinisial ZD, ditemukan tewas di area kampus STIHSA. Yang mengejutkan, pelakunya berhasil diamankan polisi dalam waktu kurang dari sehari.
Bukan orang sembarangan. Tersangka berinisial MS ternyata seorang anggota Polri yang bertugas di Polres Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Ia dibekuk oleh gabungan tim dari Satreskrim Banjarmasin, Ditreskrimum, dan Propam.
Kabid Humas Polda Kalsel, Kombes Adam Erwindi, membeberkan fakta itu dalam jumpa pers di Polresta Banjarmasin, Jumat lalu. Motifnya, kata dia, berakar dari persoalan asmara yang rumit.
“Tersangka sudah sidang pernikahan dengan calon istrinya, rencananya menikah 26 Januari 2026. Sementara korban, ZD, adalah teman dari calon istri tersebut,” jelas Adam Erwindi.
Menurutnya, motif cinta segitiga ini terungkap dari pemeriksaan intensif setelah MS ditangkap pada Rabu malam, 24 Desember. Padahal, pembunuhannya sendiri terjadi lebih awal, di dini hari yang sama.
Kronologinya dimulai pada malam 23 Desember. Sekitar pukul delapan malam, ZD dan MS konon janjian bertemu di suatu perempatan di Kabupaten Banjar. ZD datang naik motor Vario, sementara MS menyetir mobil Rush merah. Setelah memarkir motornya di sebuah supermarket, ZD lalu masuk ke mobil MS.
Mereka sempat berputar-putar. Awalnya menuju Bukit Batu, Banjar. Tapi, telepon berulang dari calon istri MS memaksa mereka mampir sebentar ke sebuah rumah sekitar pukul 11 malam.
Perjalanan berlanjut menuju Banjarmasin lewat Pal 15, Kecamatan Gambut. Di tempat inilah segalanya berubah. Adam Erwindi menyebut, di lokasi itu mereka berhubungan badan. Tak lama, cekcok pecah.
“Korban mengancam akan melaporkan perbuatan mereka kepada calon istri tersangka. Karena panik ancaman itu akan menggagalkan pernikahannya, MS langsung mencekik leher ZD pakai tangan,” ungkap Adam.
ZD pun lemas. Beberapa saat kemudian, nyawanya tak tertolong.
Dalam kepanikannya, MS berusaha menghilangkan jasad. Sekitar pukul dua pagi, ia membawa mayat korban ke sekitar sungai bawah jembatan STIHSA Banjarmasin. Rencana awalnya, membuangnya ke sungai. Tapi situasi berubah.
“Tiba-tiba tersangka melihat gorong-gorong terbuka tepat di depan mobilnya. Akhirnya, jasad itu dibuang ke sana, bukan ke sungai,” tutur Adam.
Usai itu, MS pulang ke rumah. Ia sempat mengambil perhiasan, tas, dan ponsel milik ZD sebelum membuang barang-barang bukti lainnya.
Nasib akhirnya terbongkar keesokan paginya. Petugas kebersihan menemukan jasad malang itu pada 24 Desember sekitar pukul 7.30 pagi. Jenazah kemudian dibawa ke RSUD Ulin untuk autopsi.
Adam Erwindi menyimpulkan, emosi dan kepanikan yang mendalamlah yang mendorong tersangka bertindak di luar batas. “Tersangka emosi dan panik sehingga tega membunuh korban,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Pengamat Soroti Reformasi Kultural sebagai Inti Perubahan di Tubuh Polri
KPK Dalami Aliran Dana Kasus Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid
Istri Tersangka Korupsi Bupati Bekasi Diperiksa KPK
Batalyon Arhanud 21 Pasgat Jadi Perisai Terakhir Objek Vital TNI AU