Suara keras kembali dilontarkan Habib Rizieq Shihab. Kali ini, sang imam besar menyoroti sikap seorang menteri yang dianggapnya meremehkan bantuan dari Malaysia untuk korban bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Menurut Rizieq, sikap itu tak lebih dari bentuk kesombongan yang tak pantas. Baginya, niat baik tetangga serumpun itu harusnya disambut dengan terima kasih, bukan dicibir.
Ceramahnya mengupas pernyataan pejabat yang menolak bantuan dengan alasan pemerintah masih mampu. Rizieq geram. Ia mempertanyakan klaim itu dengan nada retoris, mengajak jamaahnya membayangkan kondisi sebenarnya di lapangan.
"Tapi sekarang, saudara, giliran ada mau bantuan bilangnya, 'Nggak, kita masih mampu. Kita masih mampu.' Masih mampu dari mana mampu? Kalau mampu jembatan sudah beres. Kalau mampu tuh mayat udah selesai semua diangkat dalam waktu singkat. Betul? (Betul!),"
Baginya, situasi yang masih memprihatinkan itu justru menjadi alasan kuat untuk membuka tangan. "Jangan malu, jangan malu, saudara," serunya. Namun begitu, yang terjadi malah sebaliknya. Ada menteri, sindir Rizieq, yang malah menganggap remeh bantuan dari Malaysia. "Ada lagi menteri, bahkan ngeremehin bantuan Malaysia nggak seberapa. Cilik itu, kecil. Sombongnya Saudara," ucapnya.
Di sisi lain, Rizieq menekankan pentingnya menghargai setiap niat baik. Malaysia, sebagai tetangga, telah menunjukkan iktikadnya. Sekecil apapun bantuan itu, rasa terima kasih adalah respons yang wajar. Justru meremehkannya adalah sikap yang tak patut.
"Eh, Malaysia tetangga kita, saudara, beriktikad baik kirim bantuan. Sekecil apa pun, terima kasih! Betul? (Betul!) Betul? (Betul!) Nggak ada terima kasihnya, makin nyepelein 'enggak seberapa', idzi biko ukh... pengen dikepret aja lo,"
Ia lalu memberi contoh sederhana tentang keikhlasan. Di hadapan jamaah, Rizieq mengajak untuk berbagi sekadarnya. Seribu, dua ribu rupiah, nilainya kecil tapi bermakna besar jika disyukuri.
"Jamaah nanti ini bantu untuk Aceh, 1000 perak, 2000 perak, bagus tidak? (Bagus!) Wajib nggak disyukuri? (Wajib!),"
Nah, bayangkan jika pola pikir meremehkan itu dipakai pejabat untuk menilai sumbangan rakyat kecil. Rizieq khawatir, nilai kemanusiaan dan gotong royong bisa luntur seketika. Ia bahkan berkelakar dengan nada sarkastik.
"Jangan sampai menteri ini denger. Lu nyumbang 1000, nih menteri jangan denger. Kalau menteri denger, 'Eh, 1000'. Udah, pokoknya Masjid Madinah kirim-kirim aja, jangan ngomong. Jangan diberitain,"
Puncak kritiknya adalah pertanyaan mendasar tentang kelayakan. Di penghujung ceramah, dengan suara lantang dan diiringi sahutan jamaah, Rizieq mempertanyakan integritas.
“Kalau menteri denger, gawat. 'Eh, orang Karang Tengah, kecil'. Kacau tidak? (Kacau!) Kacau tidak? (Kacau!) Apa orang begini layak jadi menteri? (Tidak!),"
Pertanyaan itu menggantung, meninggalkan kesan mendalam. Bagi Rizieq, sikap terhadap bantuan besar atau kecil adalah cermin dari karakter seorang pemimpin.
Artikel Terkait
Pengamat Soroti Reformasi Kultural sebagai Inti Perubahan di Tubuh Polri
KPK Dalami Aliran Dana Kasus Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid
Istri Tersangka Korupsi Bupati Bekasi Diperiksa KPK
Batalyon Arhanud 21 Pasgat Jadi Perisai Terakhir Objek Vital TNI AU