jelasnya. Salah membaca situasi ini, misalnya dengan overreaction, justru bisa dimanfaatkan pihak tertentu untuk memanas-manasi keadaan.
Belum lagi posisi Aceh yang strategis secara geopolitik. Terletak di pintu Selat Malaka, setiap gejolak di sana akan menarik mata internasional, terutama menyangkut isu HAM.
ujar Amir. Pendekatan humanis, menurutnya, akan menguntungkan citra Indonesia di panggung global.
Lantas, apa peran ideal TNI dalam situasi seperti ini? Amir Hamzah menekankan, TNI punya peran strategis sebagai perekat bangsa. Di Aceh, peran itu jadi lebih kompleks.
katanya. Ia menyarankan pendekatan teritorial yang persuasif, melibatkan tokoh adat dan ulama, agar masalah tak perlu berujung eskalasi.
Di akhir analisisnya, Amir mengingatkan satu hal penting. Perdamaian di Aceh adalah hasil perjuangan panjang yang harganya mahal. Kesalahan membaca situasi bisa berakibat fatal.
pungkasnya. Insiden di Simpang Kandang ini, baginya, harus jadi momentum evaluasi. Agar Aceh tetap fokus pada pemulihan bencana dan membangun kesejahteraan, bukan kembali ke masa-masa kelam.
Artikel Terkait
Elkan Baggott dan Timnas Indonesia Siap Tampil Beda di Era Baru John Herdman
PSM Makassar Gelar Latihan Perdana Usai Libur, Lima Pemain dan Pelatih Trucha Absen
Brigjen TNI (Mar) Briand Iwan Prang Diangkat sebagai Dosen Tetap Universitas Pertahanan
Program Makan Bergizi Gratis Diwarnai Ribuan Pelanggaran, 1.030 Dapur Ditangguhkan