Dua Pejuang, Dua Arena: Sigit dan Jokowi Sama-sama Angkat Sumpah Habis-habisan

- Senin, 02 Februari 2026 | 14:50 WIB
Dua Pejuang, Dua Arena: Sigit dan Jokowi Sama-sama Angkat Sumpah Habis-habisan

Oleh: Erizal

Ternyata, Kapolri dan Jokowi punya satu kesamaan. Mereka berdua adalah pejuang. Bukan sembarang pejuang, tapi pejuang yang gigih. Meski, tentu saja, untuk kepentingan yang berbeda-beda.

Bagi pendukung masing-masing, perjuangan ini baru benar-benar terlihat belakangan. Setidaknya, bagi yang mau jeli melihat geliat politik terkini.

Di hadapan anggota Komisi III DPR, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersikap sangat tegas. Dia memerintahkan jajarannya untuk berjuang habis-habisan sampai titik darah penghabisan kalau ada saja pihak yang berniat menempatkan Polri di bawah kementerian. Posisi Polri saat ini, baginya, adalah harga mati.

Di sisi lain, Jokowi punya semangat yang tak kalah berapi-api. Saat berbicara di Rakernas I PSI di Makassar, dia berpidato lantang. Presiden menyatakan akan bekerja mati-matian untuk Partai Solidaritas Indonesia. Begitu bersemangatnya, sampai-sampai dia seperti keseleo lidah mengulang kata "mati-matian" itu. Tak cuma itu, dia juga berjanji bekerja habis-habisan demi kemenangan PSI.

Kalau dipikir, kalimatnya agak lucu juga. Kalau sudah mati, ya habis. Tapi ya sudahlah, yang penting semangatnya sampai.

Teriakannya itu langsung disambut gegap gempita. Para peserta Rakernas bersorak, "Jokowi! Jokowi! Jokowi!" Suaranya menggema memenuhi ruangan. Sementara itu, perintah Sigit soal perjuangan sampai titik darah penghabisan di Komisi III dibalas dengan tepuk tangan riuh. Bahkan, salah satu anggota teriak jelas, "Menyala Kapolri!"

Memang agak mengherankan sih, reaksi anggota Komisi III itu. Mereka bertepuk tangan atas perintah Kapolri untuk mempertahankan status quo Polri. Padahal, Ketua Komisi III-nya sendiri, Habiburokhman, bersaksi bahwa itu adalah bentuk loyalitas Kapolri kepada Presiden, bukan pembangkangan.

Namun begitu, ada yang menarik. Belum lama ini, di hadapan kelompok kritis yang bertemu Presiden Prabowo di Kertanegara, opsi penempatan Polri di bawah kementerian justru dibuka secara eksplisit. Nah, lho. Lantas, apa arti tepuk tangan dan pernyataan loyalitas tadi?

Sebagai petinggi Gerindra, mestinya Habiburokhman agak malu. Dia terlalu maju dan pasang badan untuk sesuatu yang sebenarnya belum final. Kecuali, ya, kalau memang ada kepentingan lain yang belum terbuka ke publik. Entahlah. Tindakan yang agak memalukan semacam ini sepertinya sudah melekat pada sebagian anggota dewan kita.

Soal Jokowi, sebenarnya wajar saja dia bekerja mati-matian untuk PSI. Ketua Umum partainya adalah anak bungsunya, dan calon yang akan diusung nanti adalah anak sulungnya. Kalau dia tidak berjuang habis-habisan, justru itu yang aneh. Mana mungkin dia yang diuntungkan malas-malasan?

Yang justru kurang wajar itu pernyataan Kapolri. Memerintahkan bawahannya berjuang sampai titik darah penghabisan hanya untuk menolak kemungkinan Polri dibawahi kementerian? Bahkan dia bilang lebih memilih jadi petani daripada jadi menteri yang membawahi Polri. Agak lawak, terdengarnya. Seperti ada anak buah yang tiba-tiba ngotot mau menentukan sendiri siapa bosnya.

(Direktur ABC Riset & Consulting)

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar