Moralitas dan Seni Mengingat Asal
Moral jarang ambruk oleh kejahatan yang terang-terangan. Ia lebih sering retak perlahan, dikikis oleh hal yang tampak remeh: kelupaan. Lupa yang sunyi, hampir tak terasa, tapi dibiarkan saja merambat seperti akar di sela-sela kesadaran. Dari situlah kesombongan mulai bersarang bukan sebagai gebrakan, tapi sebagai keyakinan diam-diam bahwa kita sudah lebih baik dari yang lain. Kita lupa pada kulit kita sendiri: batas fisik yang justru mengingatkan bahwa nasib kita pada dasarnya setara. Lupa bahwa jauh sebelum jadi hakim, kita adalah sesama manusia.
Kulit itu bukan cuma selubung biologis, lho. Ia adalah metafora yang kuat. Ia menandai keterbatasan, kerentanan, dan potensi kita untuk terluka. Mengingat kulit artinya mengakui bahwa kita nggak kebal, nggak mutlak, dan punya sejarah sendiri yang tak sempurna. Tapi kesombongan punya cara licik untuk melucuti ingatan ini. Ia membisiki kita bahwa batas adalah mahkota, bahwa perbedaan adalah cela, dan bahwa kemenangan sekecil apapun adalah bukti final bahwa kita benar.
Nah, di sinilah hal-hal yang “aneh” jadi sasaran. Keanehan ini bukan cuma soal selera. Ini soal moral. Yang aneh mengacaukan narasi rapi yang kita bangun tentang diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa dunia ini nggak disusun cuma buat memuaskan ego satu kelompok. Maka, yang beda harus segera dikasih label, dibatasi maknanya, atau yang paling gampang: ditertawakan. Bukan karena dia salah, tapi karena dia memaksa kita untuk bercermin. Dan dalam tawa itu, moralitas mundur selangkah. Kita memilih aman, ketimbang jujur melihat asal-usul kita.
Kesombongan moral ini sering banget pakai jubah kepastian etis. Dia bicara atas nama nilai-nilai luhur, tapi sekaligus nutup rapat-rapat pintu pertanyaan. Dia merasa menang karena sudah memilih kubu, lupa bahwa moral yang sesungguhnya bukan tentang berdiri di podium, tapi tentang kesediaan untuk menimbang-nimbang. Kemenangan yang tak pernah diuji keraguan adalah kemenangan yang rapuh. Dia butuh musuh agar tetap berdiri, dan butuh kelupaan agar tidak runtuh oleh rasa empati.
Albert Camus sudah mengingatkan bahayanya. Dia bilang:
“The evil that is in the world always comes of ignorance, and good intentions may do as much harm as malevolence if they lack understanding.”
Jadi, kejahatan itu nggak selalu lahir dari niat jahat. Bisa juga datang dari ketidaktahuan yang merasa dirinya sudah cukup tahu. Ini wajah lain kesombongan moral: keyakinan buta bahwa niat baik saja sudah cukup untuk membenarkan segalanya. Dalam kondisi begini, lupa jadi berbahaya karena ia membebaskan kita dari kewajiban untuk memahami.
Sebaliknya, moral yang hidup justru lahir dari ingatan yang nggak nyaman. Ingatan bahwa kita pernah salah, pernah takut, pernah jadi si “aneh” di mata orang lain. Ingatan macam ini nggak melemahkan nilai-nilai kita; malah membersihkannya dari kesombongan. Soalnya, cuma orang yang ingat betapa rapuhnya dirinya yang bisa berlaku adil tanpa merasa lebih tinggi. Moralitas nggak butuh pemenang ia butuh manusia yang bersedia untuk tidak selalu merasa benar.
Dalam skala masyarakat, kelupaan ini sering dilembagakan. Jadi kebiasaan, jadi jargon, bahkan jadi kebijakan. Saat lupa sudah jadi hal kolektif, kesombongan berubah jadi norma. Yang kuat merasa wajar mengatur, yang mayoritas merasa sah menilai, dan yang “berbeda” diminta menyesuaikan diri. Di titik ini, moralitas diuji bukan oleh niat baik, tapi oleh struktur. Beranikah kita mengingat kulit kita yang rentan, di tengah sistem yang menyuruh kita memakai zirah?
Mengingat asal bukan berarti menolak kemajuan. Ini justru cara agar kemajuan nggak kehilangan jiwa. Tanpa ingatan, etika cuma jadi prosedur kaku; kebaikan cuma jadi kepatuhan buta; keadilan cuma angka di kertas. Mengingat asal mengembalikan manusia ke pusat moralitas bukan sebagai penguasa nilai, tapi sebagai penanggung jawabnya. Dari sana, empati bukan lagi pilihan yang sentimentil, tapi konsekuensi yang logis.
Camus pernah bilang dengan tegas:
“A man without ethics is a wild beast loosed upon this world.”
Tapi etika yang dia maksud bukan sekumpulan aturan mati. Ia adalah kesadaran yang harus terus dijaga. Etika lahir dari ingatan ingat akan batas, akan kulit, akan dari mana kita datang. Tanpa ingatan itu, manusia jadi liar bukan karena nalurinya, tapi karena keyakinannya sendiri. Dia merasa menang, merasa benar, dan merasa nggak perlu lagi bercermin.
Orang yang benar-benar menang, sebenarnya nggak merasa perlu koar-koar soal kemenangannya. Dia nggak menertawakan yang aneh, karena dia tahu keanehan adalah cermin dari kemungkinan lain. Dia nggak melupakan kulitnya, karena sadar batas adalah guru terbaik. Moralitasnya nggak berisik, tapi konsisten. Dia nggak sibuk cari pembenaran, karena sudah berdamai dengan asal-usulnya.
Pada ujungnya, moral itu adalah seni mengingat. Mengingat bahwa sebelum jadi orang yang benar, kita adalah manusia. Mengingat bahwa sebelum menilai, kita pernah dinilai. Mengingat bahwa kulit dengan segala kerapuhannya adalah pengingat paling jujur tentang kesetaraan kita. Kalau lupa melahirkan kesombongan, maka mengingat adalah tindakan etis itu sendiri. Dalam ingatan, kesombongan kehilangan pijakannya, dan moralitas menemukan kedalamannya yang sejati bukan di atas orang lain, tapi di antara sesama.
Catatan dari Cilandak, Aendra Medita
Artikel Terkait
Manchester City Kalahkan Liverpool 2-1 Berkat Gol Telat Haaland
Bayern Munich Hajar Hoffenheim 5-1, Luis Díaz Cetak Hattrick
Moodys Tegaskan Peringkat Baa2 Indonesia, Pemerhatan Soroti Ketahanan Ekonomi
Anggota DPR Soroti Rencana Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza: Perlu Kajian Teknis dan Perhatikan Beban APBN