tambahnya sambil tertawa. Selain Pasar Ngasem, rencananya dia juga akan menjelajahi Merapi di Sleman hingga pantai-pantai di Gunungkidul.
Cerita serupa datang dari Dwi Raja Putra Manalu, mahasiswa asal Medan yang kuliah di Semarang. Dia memilih menghabiskan Natal pertamanya di Yogyakarta, dan Pasar Ngasem masuk dalam daftar wajib kunjung.
“Pertama kunjungan ke Pasar Ngasem. Menarik tapi satu hal yang saya tekankan soal kebersihan yang masih kurang. Walaupun kesan tradisionalnya masih ada,”
ungkapnya. Dwi Raja sudah mencicipi bubur dan mengaku tertarik dengan banyaknya makanan tradisional yang ditawarkan.
Di sisi lain, bagi para pedagang, keramaian ini adalah angin segar. Ririn, salah seorang penjual clorot (makanan khas Purworejo), mengaku wisatawan mulai membludak sejak Jumat lalu. Sabtu dan Minggu pun makin menjadi.
“Saya jualan clorot. Makanan khas Purworejo, Jawa Tengah,”
jelasnya. Banyak pembeli yang penasaran dengan jualannya itu.
Ririn biasanya membawa 150 ikat clorot per hari, dengan setiap ikat berisi 10 buah dan dijual Rp 20 ribu. Karena ramainya pengunjung, dagangannya bisa ludes dalam waktu singkat.
“Jam 09.00 WIB sampai jam 10.00 WIB sudah habis,”
katanya, sambil mengatur dagangan yang hampir tandas. Ramainya pasar tua ini, sekali lagi, membuktikan bahwa daya tarik sebuah tempat bisa berubah, tapi keramaiannya tetap sama.
Artikel Terkait
Prakiraan Cuaca Makassar: Cerah Berawan Pagi, Hujan Ringan Berpotensi di Dini Hari
Pemerintah Tegaskan Batas Usia 16 Tahun untuk Akses Platform Digital Berisiko
Lebaran Usai, 171 Ribu Kendaraan Banjiri Makassar di Puncak Arus Balik
Harga Emas Perhiasan Stabil di Tengah Gejolak Pasar Global