Kisah Pagi di Kotagede: Sebuah Kenangan yang Tak Terlupakan
Pagi itu, saya benar-benar kesiangan. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas dua, di SD Muhammadiyah Bodon. Sekolah itu letaknya tak jauh dari rumah, kira-kira cuma 300 meter. Tapi ya, namanya juga anak kecil, tiga ratus meter terasa seperti jarak yang amat jauh ketika waktu sudah mepet.
Saya pun memutuskan untuk berlari. Kaki kecil ini menyusuri jalan kampung, berusaha mengejar waktu. Di tengah jalan, saya melihat seorang bapak-bapak yang sedang bersepeda. Entah kenapa, tanpa pikir panjang saya terus berlari di belakang sepedanya, berharap bisa sampai lebih cepat.
Melihat saya yang terengah-engah, bapak itu rupanya iba. Dia menghentikan sepedanya dan menyuruh saya naik. Saya dibonceng dengan hati-hati.
“Nek tangi sing esuk, ben ora telat,” katanya dengan suara yang tenang, sesaat setelah saya turun di depan gerbang sekolah.
Kalimat sederhana itu, dalam bahasa Jawa yang halus, ternyata melekat kuat dalam ingatan. Pesannya jelas: kalau bangun pagi, tidak akan telat. Sebuah nasihat yang polos, tapi terasa sangat dalam bagi seorang anak kelas dua yang hampir tertinggal pelajaran.
Prijono, Kotagede, Yogyakarta
Artikel Terkait
Pilkades PAW Serentak di 18 Desa Bone Berlangsung Aman, Muncul Kemenangan Tipis hingga Figur Perempuan
Harga Emas Pegadaian Stabil, Galeri24 dan UBS Bertahan di Level Sebelumnya
Suami Asal Cianjur Temukan Istrinya Trauma Usai Hilang Kontak Tiga Minggu Bekerja di Rumah Erin Taulany
Pria di Makassar Aniaya Petugas SPBU Gegara Mertua Ditegur Serobot Antrean BBM