Anggota DPR Ingatkan AS: Kritik ke Israel Bukan Antisemit, Tapi Sikap Anti-Penjajahan

- Rabu, 24 Desember 2025 | 08:25 WIB
Anggota DPR Ingatkan AS: Kritik ke Israel Bukan Antisemit, Tapi Sikap Anti-Penjajahan

Jakarta – Peringatan keras dilontarkan anggota Komisi I DPR, Sukamta. Ini menyusul wacana dari Amerika Serikat yang berencana mengubah narasi global termasuk di Indonesia terhadap bangsa Yahudi. Proyek kampanye yang digagas utusan khusus mantan Presiden AS Donald Trump itu dinilai berbahaya.

Menurut Sukamta, selama ini pendidikan di Indonesia sama sekali tidak mengajarkan antisemitisme. "Itu prasangka atau kebencian terhadap orang Yahudi," jelasnya. Justru, yang diajarkan dalam UUD 1945 adalah semangat anti-penjajahan.

Politisi Fraksi PKS itu lantas menegaskan, sikap mayoritas masyarakat Indonesia yang mengecam agresi Israel ke Palestina bukanlah bentuk antisemit.

"Itu adalah sikap anti penjajahan. Titik," ujarnya tegas.

Dia menambahkan, jika Israel tidak ingin terus dikecam, ya seharusnya menghentikan penjajahannya terhadap Palestina. Pernyataan ini disampaikannya kepada media, Rabu (24/12).

Di sisi lain, Sukamta mengingatkan keragaman agama di Indonesia. Enam agama resmi yang diakui negara, katanya, menjadi bukti bahwa Indonesia bukan negara yang antisemit. Kondisi sosiologis kita sudah mencerminkan hal itu.

Namun begitu, rencana intervensi terhadap buku ajar sekolah Indonesia seperti yang diungkap utusan Trump justru berpotensi memantik sentimen negatif baru. Bisa-bisa, upaya itu malah berbalik menyerang Israel sendiri.

Terlebih, Sukamta mewanti-wanti pemerintahan baru Prabowo Subianto untuk berhati-hati. "Ini bisa bertentangan dengan nilai-nilai UUD," katanya.

Dia melanjutkan, "Kita perlu waspada. Jangan-jangan yang akan dimasukkan nanti adalah nilai-nilai yang tidak sejalan dengan Pancasila dan budaya kita."

Rencana itu sendiri diungkap oleh Yehuda Kaploun, seorang rabi yang ditunjuk Trump sebagai Utusan Khusus untuk Urusan Antisemit. Dalam sebuah konferensi media Israel, The Jerusalem Post, Kaploun mengaku sedang mencari cara mengubah buku pelajaran sekolah di Indonesia.

Tujuannya? Mengubah pandangan masyarakat, khususnya umat Islam yang mayoritas, terhadap isu antisemitisme.

"Indonesia punya 350 juta muslim. Bagaimana cara mengubah buku ajar mereka?" tanya Kaploun dalam klip wawancara yang kini viral.

Dia menyatakan telah ditugaskan memimpin pemberantasan antisemitisme global. "Bagaimana kita mendidik? Bagaimana memeranginya di internet, bahkan dengan meningkatkan algoritma?" ucapnya.

Lewat proyek ambisius ini, AS disebut akan membentuk divisi khusus. Nantinya, mereka akan berkolaborasi dengan sejumlah perusahaan teknologi banyak di antaranya sudah menawarkan kerja sama.

Jadi, ini bukan sekadar wacana. Mereka serius. Dan Indonesia, tampaknya, masuk dalam daftar sasaran.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar