“Saya bingung, kenapa barang-barang tersebut bisa hanyut. Ternyata dinding dapur kami roboh, dan seluruh barang dapur terbawa arus,” lanjutnya, menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan air saat itu.
Mereka bertahan di musala bersama warga lain. Baru pada hari kedua, air mulai surut. Yang tersisa adalah pemandangan suram: lumpur dan kayu-kayu berserakan memenuhi area rumah. Kondisi dalam rumah jauh lebih parah.
“Lumpur di luar rumah dan dapur setinggi 1–1,5 meter. Di dalam kamar setinggi selutut. Semua lemari kayu, kasur, dan barang lainnya rusak dan tidak bisa dipakai lagi,” ucapnya.
Kini, rumah itu tak layak huni. Suami Umma yang bekerja sebagai guru honorer SMP sekaligus guru ngaji pun terpaksa berhenti sejenak. Aktivitas mengajarnya terhenti.
“Pekerjaan suami sedang libur. Peralatan dapur seperti kompor, rice cooker, dan kulkas sudah tidak ada,” ungkapnya. Hidup serba kekurangan.
Memang, bantuan seperti beras, telur, dan mi instan sudah datang. Tapi itu belum cukup. Masalahnya, mereka tak punya alat untuk memasak.
“Alhamdulillah bantuan sudah ada. Tapi kendalanya tidak ada peralatan masak. Kami ikut gabung di dapur pengungsian pesantren. Semua bantuan yang kami dapatkan kami serahkan ke pesantren,” jelasnya.
Untuk sementara, fokus mereka cuma satu: menyelamatkan apa yang masih bisa dipakai dari sisa-sisa rumah.
“Untuk saat ini, kami masih berusaha mengambil barang-barang rumah yang masih bisa dipakai,” imbuhnya.
Di tengah segala keterpurukan, Umma tak berhenti berharap. Doa-doa terus dipanjatkan, memohon pemulihan dan kekuatan.
“Semoga di balik musibah ini ada hikmah bagi kita semua, khususnya bagi kami yang terdampak banjir. Tetap kuat dan terus bersabar,” katanya, menutup cerita dengan sebait harapan yang tak pernah padam.
Artikel Terkait
TNI Mutasi 35 Perwira, Mayjen Lucky Avianto Pimpin Kogabwilhan III
Raphinha dan Vinicius Jr Kompak di Pemusatan Latihan Timnas Brasil
Komposer Legendaris Lebo M Gugat Komedian Zimbabwe Rp 400 Miliar Atas Parodi The Lion King
Mohamed Sahah Resmi Tinggalkan Liverpool Lewat Surat Terbuka yang Haru