Sudah hampir sebulan berlalu, tepatnya 28 hari, tapi lumpur masih memenuhi rumah Umma Ezra di Desa Meunasah Bie, Pidie Jaya. Sejak Rabu malam tanggal 25 November itu, kehidupan keluarga muda ini seperti terhenti. Sekarang, Umma dan suaminya berjuang mengais sisa-sisa kehidupan dari tumpukan tanah basah yang mengeraskan itu.
Dengan cangkul dan sekop, mereka menggali perlahan. Perabotan yang terselamatkan satu per satu dikeluarkan. Tangan Umma sudah tak lagi dikenali, penuh lapisan lumpur cokelat pekat. Pakaian, piring, lemari yang masih bisa diselamatkan, dibawanya ke sungai dekat rumah untuk dicuci. Sebuah rutinitas yang melelahkan.
Malam bencana itu masih jelas terbayang. Hujan lebat tak henti mengguyur. Menjelang tengah malam, air mulai merayap masuk ke dalam rumah. Mereka berdua masih sempat mengangkat barang-barang ke tempat yang lebih tinggi, meletakkannya di atas meja dan lemari. Saat itu, pikiran buruk belum terlintas.
“Kami pikir airnya tidak akan terlalu tinggi,” kenang Umma, Selasa (23/12) lalu.
Namun begitu, prediksi mereka meleset. Air terus naik, mencapai ketinggian lutut orang dewasa. Panik mulai menyergap. Umma, suaminya, dan anak mereka memutuskan keluar, bergegas mencari tempat yang aman. Musala sebuah pondok pesantren tak jauh dari rumah menjadi tujuan.
“Kami bergegas ke lantai dua musala pesantren dengan membawa satu tas berisi dokumen penting, baju masing-masing dua pasang, bantal untuk anak, dan selimut. Saat kami keluar, air di luar rumah sudah setinggi pinggang,” ucapnya.
Sesampainya di sana, situasi justru makin mencekam. Air naik dengan kecepatan yang menakutkan, deras bagai sungai yang meluap. Dari balik jendela musala, mereka hanya bisa pasrah.
“Kami hanya bisa melihat air, berdoa, dan berserah diri kepada Allah,” katanya, suara terdengar lirih saat mengingatnya.
Pukul dua pagi, banjir mencapai puncaknya. Ketinggian air lebih dari dua meter. Dari lantai dua, Umma menyaksikan rumahnya nyaris tak tampak, tenggelam sepenuhnya. Rasa waswas menyelimuti.
“Kami sangat waswas waktu itu. Apakah kami akan selamat, ataukah ini malam terakhir kami di dunia ini,” ujarnya.
Pemandangan pilu lainnya menyusul. Barang-barang dapur mereka hanyut terbawa arus deras melewati musala.
“Saya bingung, kenapa barang-barang tersebut bisa hanyut. Ternyata dinding dapur kami roboh, dan seluruh barang dapur terbawa arus,” lanjutnya, menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan air saat itu.
Mereka bertahan di musala bersama warga lain. Baru pada hari kedua, air mulai surut. Yang tersisa adalah pemandangan suram: lumpur dan kayu-kayu berserakan memenuhi area rumah. Kondisi dalam rumah jauh lebih parah.
“Lumpur di luar rumah dan dapur setinggi 1–1,5 meter. Di dalam kamar setinggi selutut. Semua lemari kayu, kasur, dan barang lainnya rusak dan tidak bisa dipakai lagi,” ucapnya.
Kini, rumah itu tak layak huni. Suami Umma yang bekerja sebagai guru honorer SMP sekaligus guru ngaji pun terpaksa berhenti sejenak. Aktivitas mengajarnya terhenti.
“Pekerjaan suami sedang libur. Peralatan dapur seperti kompor, rice cooker, dan kulkas sudah tidak ada,” ungkapnya. Hidup serba kekurangan.
Memang, bantuan seperti beras, telur, dan mi instan sudah datang. Tapi itu belum cukup. Masalahnya, mereka tak punya alat untuk memasak.
“Alhamdulillah bantuan sudah ada. Tapi kendalanya tidak ada peralatan masak. Kami ikut gabung di dapur pengungsian pesantren. Semua bantuan yang kami dapatkan kami serahkan ke pesantren,” jelasnya.
Untuk sementara, fokus mereka cuma satu: menyelamatkan apa yang masih bisa dipakai dari sisa-sisa rumah.
“Untuk saat ini, kami masih berusaha mengambil barang-barang rumah yang masih bisa dipakai,” imbuhnya.
Di tengah segala keterpurukan, Umma tak berhenti berharap. Doa-doa terus dipanjatkan, memohon pemulihan dan kekuatan.
“Semoga di balik musibah ini ada hikmah bagi kita semua, khususnya bagi kami yang terdampak banjir. Tetap kuat dan terus bersabar,” katanya, menutup cerita dengan sebait harapan yang tak pernah padam.
Artikel Terkait
Polisi Ungkap Motif Perampokan Sadis di Boyolali: Utang Judi Online
KPK Tetapkan Wakil Ketua PN Depok Tersangka Baru Kasus Gratifikasi Rp2,5 Miliar
Pandji Selesaikan Pemeriksaan Kasus Dugaan Penistaan Agama di Polda Metro Jaya
Islah Bahrawi Tolak Wacana Polri Dibawah Kementerian, Desak Tetap di Bawah Presiden