Di saat-saat seperti itulah niat untuk berhenti itu menguap. Urung. Hilang begitu saja.
Dan percayalah, kondisi seperti ini bukan cuma saya yang alami. Banyak sekali, hampir semua relawan sebenarnya merasakan hal serupa. Hanya mungkin jarang yang bicara.
Saya malah merasa lebih beruntung. Masih bisa membantu banyak orang karena banyak yang mempercayakan dananya. Ada yang lebih susah.
Faktanya, banyak relawan lain yang benar-benar berjuang. Jangankan untuk bantu orang lain, sekadar ongkos berangkat ke medan bencana saja, mereka kerap harus menjual barang atau mengorbankan sesuatu. Itu kenyataan yang pahit.
Ini adalah potret yang sesungguhnya. Di balik galang dana yang sukses, ada pergulatan batin dan dompet yang nyaris kosong.
Artikel Terkait
Timnas Iran Gelar Aksi Diam Bawa Tas Sekolah, Berduka untuk 165 Korban Anak di Minab
Antonelli Rebut Pole Position, Grid Suzuka 2026 Diwarnai Kejutan
Justin Hubner: Indonesia Terasa Seperti Rumah Setiap Kali Dipanggil Timnas
Hendropriyono Kenang Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan Sipil dengan Jiwa Militan