Ramalan Wanda Hamidah di Pilpres 2014: Dulu Ditertawakan, Kini Makin Nyata

- Minggu, 21 Desember 2025 | 12:40 WIB
Ramalan Wanda Hamidah di Pilpres 2014: Dulu Ditertawakan, Kini Makin Nyata

Pernyataan Wanda Hamidah di Pilpres 2014 dulu dianggap lebay. Bahkan jadi bahan tertawaan. Ia bilang, kalau Prabowo jadi presiden, ruang kritik akan menyempit. Media dibungkam. Negara bakal kembali ke pola Orde Baru.

Banyak yang mengejek waktu itu. "Berlebihan," kata mereka. Dianggap cuma menakut-nakuti publik saja.

Tapi lihat sekarang. Ramalan itu, mau tak mau, terasa relevan. Sangat relevan.

Di sisi lain, kenyataan yang kita hadapi mulai mirip. Kritik kini sering dicap sebagai ancaman. Media yang vokal dapat tekanan dibenturkan dengan pasal atau narasinya dipelintir. Rakyat yang bersuara langsung dapat label: pembenci, antek asing, atau musuh negara. Argumen tak lagi dijawab dengan data, melainkan dengan hardikan dan emosi.

Ironis, bukan? Pemimpin yang dulu mengaku siap dikritik, sekarang tampak alergi. Meja digedor, suara ditinggikan, dan stempel "antek asing" mudah sekali dilempar saat kebijakannya dipertanyakan. Rasanya negara ini tak lagi dipimpin dengan nalar dingin, tapi dengan ketersingungan yang meluap.

Yang bikin ngeri, pola ini pelan-pelan dinormalisasi. Rakyat didesak diam demi stabilitas. Media diminta "bijak", yang artinya jangan terlalu kritis. Demokrasi pun menyusut jadi sekadar ritual lima tahunan hilanglah esensinya sebagai ruang dialog yang hidup.

Nah, kalau kritik sudah dianggap makar, kalau beda pandangan langsung dicurigai, dan kekuasaan lebih sibuk membungkam daripada memberi penjelasan, maka pertanyaannya cuma satu:

Ini masih negara demokrasi, atau cuma demokrasi di atas kertas belaka?

Mungkin pertanyaannya harus kita balik. Jangan tanya "ke mana Wanda Hamidah sekarang?". Tanyakan saja, kenapa ramalannya justru terasa makin nyata hari demi hari?

Sejarah, rupanya, tak pernah benar-benar pergi. Ia cuma menunggu. Menunggu saat rakyat lengah, dan kekuasaan merasa tak perlu lagi mendengar.

(Eben Eizer Ritonga)

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar