Nah, kalau kritik sudah dianggap makar, kalau beda pandangan langsung dicurigai, dan kekuasaan lebih sibuk membungkam daripada memberi penjelasan, maka pertanyaannya cuma satu:
Ini masih negara demokrasi, atau cuma demokrasi di atas kertas belaka?
Mungkin pertanyaannya harus kita balik. Jangan tanya "ke mana Wanda Hamidah sekarang?". Tanyakan saja, kenapa ramalannya justru terasa makin nyata hari demi hari?
Sejarah, rupanya, tak pernah benar-benar pergi. Ia cuma menunggu. Menunggu saat rakyat lengah, dan kekuasaan merasa tak perlu lagi mendengar.
(Eben Eizer Ritonga)
Artikel Terkait
Main Hakim Sendiri Berujung Buntung: Korban Pencurian Malah Jadi Tersangka
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar
KPK Bergerak Lagi, OTT Sasar Pejabat Bea Cukai