Pemerintah punya pesan khusus untuk para gubernur dan bupati jelang malam tahun baru: jangan berlebihan. Imbauan ini bukan tanpa alasan. Di tengah musibah banjir dan bencana alam yang melanda beberapa wilayah, Kemendagri menilai solidaritas harus diutamakan ketimbang pesta pora.
Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, tak menampik bahwa situasi bangsa sedang berat. Ia meminta seluruh jajaran pemda untuk meningkatkan kewaspadaan dan, yang lebih penting, empati.
"Situasinya hari ini memang sedang tidak baik-baik saja bagi bangsa Indonesia. Banyak saudara-saudara kita sedang dihadapkan pada ujian yang sangat berat dan mungkin juga masih harus waspada dan siaga semuanya,"
ujar Bima, Minggu lalu.
Menurutnya, di daerah-daerah terdampak, para pemimpin lokal justru sibuk bertarung memulihkan kondisi dan menyalurkan bantuan. Nah, daerah yang aman-aman saja seharusnya bisa turut membantu, bukan malah sibuk berpesta.
"Amatlah tidak bijak dan tidak tepat ya, apabila ada perayaan di tengah penderitaan. Sangatlah tidak pas apabila ada yang bersuka di tengah situasi duka,"
tegasnya tanpa basa-basi.
Lantas, bagaimana sebaiknya menyambut tahun baru? Bima punya usulan. Momen pergantian tahun itu bisa diisi dengan hal-hal yang lebih bermakna. Refleksi diri, menggalang solidaritas, atau sekadar mendoakan mereka yang sedang kesusahan. Intinya, tahan dulu niat untuk merayakannya dengan cara yang kurang empatik.
Tak cuma soal perayaan, Bima juga mengingatkan para kepala daerah untuk tetap berada di posnya. Jangan sampai lengah, apalagi sampai berencana jalan-jalan ke luar negeri. "Jangan sampai nanti kemudian timbul masalah karena tidak berada di kotanya masing-masing," pesannya.
Dukungan dari Senayan
Imbauan serupa ternyata juga datang dari parlemen. Dede Yusuf, Wakil Ketua Komisi II DPR, menyatakan hal yang nyaris sama. Menurut politisi yang juga mantan Wakil Gubernur Jabar ini, pemda sebaiknya menahan diri.
“Rasanya kita harus menghargai, menghormati kondisi itu dengan tidak berlebih-lebihan. Nah, saya rasa tahun baru untuk pemda-pemda lain tidak usahlah merayakan secara berlebihan,”
kata Dede.
Ia menawarkan alternatif. Daripada pesta, lebih baik gelar acara doa bersama, pengajian, atau kegiatan seni budaya yang bernuansa solidaritas. "Pray for Sumatera, Pray for Aceh, atau apa pun juga," imbuhnya.
Selain itu, Dede mengingatkan satu hal krusial: ancaman bencana belum berakhir. Curah hujan tinggi masih mengintai hingga awal tahun. Karena itu, kewaspadaan harus tetap dijaga, dan hindari menggelar kegiatan di daerah rawan seperti jalur banjir.
“Prinsipnya saat ini curah hujan agak berlebihan. Karena itu, kita harus waspada, tingkatkan kewaspadaan,”
tutupnya.
Di lapangan, beberapa daerah sudah bergerak lebih dulu. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, misalnya. Ia memastikan perayaan di Ibu Kota akan sederhana. Tak ada kemewahan yang mencolok, apalagi kembang api.
“Kembang api menurut saya juga tidak perlu ada, jadi pakai drone saja cukup. Karena bagaimana pun Jakarta sebagai Ibu Kota negara akan dilihat negara-negara lain,"
katanya di Ancol, Jumat lalu.
Konsepnya, tegas Pramono, adalah empati. Mengingat bencana di Aceh dan Sumatera, kemeriahan berlebihan harus dihindari. "Saya enggak mau itu," ujarnya.
Langkah serupa diambil Denpasar, Bali. Kota pariwisata ini memutuskan tak akan ada kembang api atau konser musik besar. Semua demi menjaga rasa hormat dan keprihatinan terhadap kondisi tanah air yang sedang tertimpa musibah.
Artikel Terkait
Polda Kalbar Musnahkan 12 Kilogram Sabu Hasil Pengungkapan Jaringan Narkoba
Mahfud MD Apresiasi Prabowo Undang Tokoh Kritis untuk Jembatani Kesenjangan Informasi
PBNU Tetapkan Jadwal Munas, Konbes, dan Muktamar ke-35 pada 2026
Rem Blong Truk Pasir Picu Tabrakan Beruntun di Exit Tol Cilegon Timur