Trotoar Benhil: Jalur Pejalan Kaki yang Berubah Jadi Arena Rintangan

- Minggu, 21 Desember 2025 | 11:12 WIB
Trotoar Benhil: Jalur Pejalan Kaki yang Berubah Jadi Arena Rintangan

Berjalan kaki di depan Pasar Bendungan Hilir sekarang ini lebih mirip sebuah tantangan ketimbang sekadar menapaki trotoar. Jalurnya sempit dan penuh rintangan. Anda harus benar-benar hati-hati, kepala sedikit menunduk, dan kadang terpaksa turun ke badan jalan demi menghindari halangan.

Dari arah Teras Benhil menuju Sudirman, ruang yang mestinya aman justru dipenuhi aneka penghalang. Awalnya, trotoar masih cukup untuk dua orang berpapasan. Tapi semakin jauh, jalannya makin menciut. Cukup untuk satu orang saja.

Ruang itu pun tak benar-benar kosong. Sekitar lima tiang berdiri di sepanjang jalur, dan dua di antaranya ini yang paling parah tepat menghadang di tengah jalan. Sebuah banner panjang yang terpasang di salah satu tiang hampir menutup seluruh jalur. Belum lagi deretan cone parkir, kayu-kayu, dan tali rafia yang berserakan. Pejalan kaki terpaksa melangkahi atau berhenti sejenak, memastikan langkah selanjutnya aman.

Alhasil, banyak yang memilih turun ke jalan raya. Mereka berbagi aspal dengan kendaraan yang melaju. Situasi ini makin runyam karena sisi trotoar kerap dijadikan area parkir mobil, mempersempit ruang gerak sampai ke pinggir.

Kalau menengadah, pemandangan di atas kepala juga tak kalah semrawut. Kabel-kabel menjuntai tak karuan, beberapa menggantung begitu rendah. Sementara di bawah kaki, paving blok trotoar dalam kondisi memprihatinkan. Banyak yang bolong dan lepas, memaksa setiap orang untuk terus menunduk memperhatikan pijakan.

Moko (30) merasakan betul kondisi itu. Ia baru saja berlari dari Benhil ke Kebon Sirih dan kembali melewati jalur ini rute yang juga ia lalui sepulang kerja.

“Ya ini kan mana udah sempit ya di atas, terus ada tiang, ada dibatasin ini. Jadi aksesnya udah cuma buat satu orang aja, udah dibatasin ini, nyusahin pejalan kaki sih. Jadi mana yang di bawahnya buat parkiran mobil, mau ke yang seberang jalan juga takut keserempet gitu sih. Jadi minusnya di Benhil ini meskipun dekat Sudirman, tapi akses ke Benhilnya masih kurang diperhatiin sih pejalan kaki,”

ujarnya saat ditemui di kawasan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (21/12).

Bagi Moko, ini bukan hal baru. “Sering sih, kalau yang dikasih kayu-kayu ini udah lama sih,” katanya. Tiang di tengah jalan pun, menurutnya, sudah ada sejak lama.

Sebagai pengguna rutin, ia cuma punya harapan sederhana.

“Ya mungkin untuk dinas terkait atau yang berwenang, mungkin bisa perhatiin lagi untuk hak pejalan kaki di Benhil ini. Karena ini dekat sekali untuk tempat perkantoran, jadi banyak pengguna pejalan kaki,”

jelas Moko.

“Apalagi untuk orang-orang kantoran mau akses ke transportasi utama di Benhil, MRT maupun halte itu pasti lewat sini semua. Jadi kalau pejalan kaki mau pas hari rush hour itu, jam kerja, itu di sini sangat merepotkan sekali karena ada halangan seperti ini,”

tambahnya.

Rintangan itu, katanya, muncul tiap hari, bukan cuma saat libur. Area itu juga kerap dipakai parkir mobil sepanjang hari, yang bikin pejalan kaki serba salah.

“Dipakai parkiran mobil sampai depan sana,” ungkapnya. “Iya kadang juga bingung, mau ke atas sempit gini, mau di bawah takut keserempet juga.”

Jean (19) yang sering melintas di akhir pekan mengeluhkan hal serupa. Ia tinggal tak jauh dan suka berjalan kaki menikmati suasana, tapi trotoar ini justru bikin was-was.

“Banyak gangguannya sih, karena kayak kalau dari sana kan jalannya kecil, terus kehalang mobil juga kalau misalkan turun ke bawah. Habis itu harus lewatin, lompatin tali juga karena ada penghalangnya gitu. Terus jalannya juga kurang rapi, banyak bolong-bolongnya, terus tiang juga ngehalangin,”

jelas Jean.

Menurutnya, keadaan ini sudah berlangsung lama dan malah makin buruk. “Emang selalu kayak gini. Udah lama, apalagi sekarang tuh kabelnya kayak makin banyak juga jadi makin ngegantung ke bawah gitulah,” katanya. Paving yang lepas-lepas juga menambah rasa tak nyaman.

Harapannya sederhana: ruang yang aman dan layak. “Ya kalau bisa tuh tiangnya sih dipindahin atau diubahlah. Setidaknya kabelnya juga mengganggu soalnya, kasihan buat pejalan kaki yang bawa-bawa barang habis dari pasar gitu,” tandasnya.

Di kawasan strategis dekat perkantoran dan transportasi utama ini, trotoar Benhil seharusnya jadi jalur aman. Kenyataannya? Deretan tiang, kabel menjuntai, parkir liar, dan jalan tak rata membuat hak dasar pejalan kaki terabaikan. Setiap langkah di sini bukan lagi perjalanan biasa, melainkan sebuah usaha untuk selamat dari rintangan.

Komentar