Prabowo Soroti Jurang Ekonomi: Kemajuan Harus Terasa Sampai Pelosok

- Selasa, 16 Desember 2025 | 17:30 WIB
Prabowo Soroti Jurang Ekonomi: Kemajuan Harus Terasa Sampai Pelosok

Di Istana Negara, Jakarta, Selasa lalu, Presiden Prabowo Subianto berbicara blak-blakan. Topiknya berat: soal jurang antara capaian ekonomi nasional yang gemilang dengan realita kemiskinan yang masih menghimpit sebagian rakyat. Baginya, kemajuan sebuah bangsa itu tak cuma angka di atas kertas. Itu harus benar-benar terasa, sampai ke pelosok.

Acara itu sendiri adalah pengarahan untuk kepala daerah se-Papua beserta jajaran KEPP-OKP. Tapi pesannya jelas untuk semua.

"Kita punya cita-cita jadi negara modern, kan? Nah, dalam negara modern itu, kemiskinan dan ketertinggalan harus kita hapus. Sama sekali," tegas Prabowo.

Ia kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih personal, "Lihat saja. Masih ada saudara kita yang hidup susah, kekurangan. Bahkan kelaparan. Itu kenyataan yang tak bisa kita terima."

Memang, prestasi Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Posisinya sebagai ekonomi terbesar kedelapan di dunia sering disebut-sebut. Bahkan, proyeksi dua dekade ke depan menjanjikan posisi yang lebih mentereng lagi: masuk lima besar, atau malah empat besar. Tapi di situlah persoalannya.

Menurut Prabowo, masalah utamanya bukan pada pertumbuhan, melainkan pada bagaimana hasilnya dibagi. "Potensinya luar biasa, ya. Tapi kita masih terkendala soal pemerataan. Tata kelola pemerintahan dan manajemen kita sebagai bangsa ini yang harus terus kita benahi," ujarnya.

Di sisi lain, ia mengakui sebuah ironi. Indonesia dikaruniai kekayaan alam dan potensi yang sangat besar. Namun, kemampuan untuk mengelola dan menjaga semua itu agar optimal bagi kesejahteraan bersama, rupanya masih perlu banyak peningkatan.

"Kita makin sadar betapa kayanya negeri ini. Tapi ya itu, kita juga harus jujur mengakui bahwa kita belum sepenuhnya andal dan cakap dalam mengelolanya," pungkas Prabowo, menutup pernyataannya.

Pertemuan itu pun berakhir, meninggalkan sebuah refleksi. Di balik optimisme menuju ekonomi raksasa dunia, pekerjaan rumah tentang keadilan masih menunggu untuk diselesaikan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler