Di Istana Negara, Jakarta, Selasa lalu, Presiden Prabowo Subianto berbicara blak-blakan. Topiknya berat: soal jurang antara capaian ekonomi nasional yang gemilang dengan realita kemiskinan yang masih menghimpit sebagian rakyat. Baginya, kemajuan sebuah bangsa itu tak cuma angka di atas kertas. Itu harus benar-benar terasa, sampai ke pelosok.
Acara itu sendiri adalah pengarahan untuk kepala daerah se-Papua beserta jajaran KEPP-OKP. Tapi pesannya jelas untuk semua.
"Kita punya cita-cita jadi negara modern, kan? Nah, dalam negara modern itu, kemiskinan dan ketertinggalan harus kita hapus. Sama sekali," tegas Prabowo.
Ia kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih personal, "Lihat saja. Masih ada saudara kita yang hidup susah, kekurangan. Bahkan kelaparan. Itu kenyataan yang tak bisa kita terima."
Memang, prestasi Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Posisinya sebagai ekonomi terbesar kedelapan di dunia sering disebut-sebut. Bahkan, proyeksi dua dekade ke depan menjanjikan posisi yang lebih mentereng lagi: masuk lima besar, atau malah empat besar. Tapi di situlah persoalannya.
Artikel Terkait
Di Balik Panasnya Aspal Skanda, Nurlia Berjuang untuk Sekolah Anak-anaknya
Sumbar Pimpin Progres Huntara, Aceh Masih Tertinggal
Jenazah Wagub Sulbar Tiba di Jakarta, Akan Dimakamkan di Kalibata
Rakornas 2026: Titik Temu Pusat dan Daerah untuk Pacu Indonesia Emas 2045