Rasanya seperti gelombang, ketakutan itu. Datang dan pergi, tapi selalu saja kembali. Ada beban kuliah yang menunggu, tugas-tumpuk, tekanan nilai yang bikin sesak. Tapi di balik itu semua, ada momok yang jauh lebih besar dan samar: takut nanti tidak menjadi apa-apa. Dua rasa takut ini saling membelit, jadi hantu buat banyak anak muda yang merasa tersesat di persimpangan jalan.
Dan ini bukan cuma soal belajar lagi. Kuliah sekarang udah jadi penanda status, tolak ukur kesuksesan, bahkan beban mental. Sejak kecil kita dikepung narasi yang itu-itu saja:
"Kalau nggak masuk jurusan favorit, ya ketinggalan."
"Lulus cepat, dapet kerja mentereng, baru dianggap berhasil."
"Nggak kuliah? Masa depanmu gelap."
Padahal, siapa sih yang hidupnya lurus-lurus aja kayak rel kereta? Banyak banget yang milih jurusan cuma ikut-ikutan temen, bukan karena suka. Atau yang sadar salah jurusan, tapi nggak berani ngomong. Bertahan cuma demi selembar ijazah, sementara ilmunya nggak nyantol.
Lalu, dari mana sih semua kegelisahan ini berasal?
Pertama, ya karena kita gemar membandingkan diri. Media sosial bikin kita terus-terusan lihat potongan terbaik hidup orang lain. Lihat teman yang magang di perusahaan besar, saudara yang wisuda pujian, atau anak muda yang udah punya bisnis. Tanpa sadar, kita membandingkan 'babak belur' kita sendiri dengan 'highlight reel' mereka.
Ekspektasi keluarga juga sering bikin sesak. Meski niatnya baik, ucapan seperti, "Anak tetangga aja udah kerja di bank, masa kamu belum?" atau "Kamu kan anak sulung, harus jadi contoh," justru nambah beban. Rasanya seperti membawa ransel berisi batu setiap hari.
Belum lagi sistem di luar sana yang masih aja kolot. Banyak lowongan yang nempel-in syarat "minimal S1" untuk pekerjaan yang sebenarnya nggak perlu banget gelar. Di banyak lingkungan sosial pun, gelar akademik kadang lebih diagung-agungkan ketimbang skill yang benar-benar bisa dipakai.
Nah, kita harus mulai membongkar mitos soal 'kesuksesan' yang kaku itu.
Pertama, sukses itu banyak rupanya, nggak cuma satu. Bukan cuma jadi dokter, insinyur, atau direktur. Seorang seniman yang tekun dengan karyanya, pedagang kecil yang bisa menghidupi keluarga, atau guru yang menginspirasi muridnya itu semua adalah kesuksesan.
Kedua, perjalanan setiap orang itu unik. Ada yang nemuin passionnya di umur 20-an, ada yang baru nemu di usia 40. Ada yang jalurnya lurus, ada yang berliku-liku. Nggak ada istilah "terlambat" untuk mulai menjadi diri sendiri.
Dan yang ketiga, gagal bukan akhir cerita. Justru banyak orang sukses yang dibangun dari tumpukan kegagalan. J.K. Rowling ditolak belasan penerbit sebelum Harry Potter akhirnya diterbitkan. Soichiro Honda pun gagal berkali-kali sebelum akhirnya mendirikan kerajaan mobilnya.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang?
Coba ubah pertanyaannya. Daripada terus bertanya "Aku nanti jadi apa?", tanyakan pada diri sendiri: "Apa sih yang bikin aku semangat banget?" atau "Apa yang akan aku lakukan kalau uang bukan masalah?" Pertanyaan seperti ini bisa membuka jalan yang nggak terduga.
Kita juga harus belajar memisahkan suara orang lain dari suara hati sendiri. Tanyakan, "Ini beneran keinginanku, atau cuma buat memenuhi harapan orang?" Mendengarkan intuisi sendiri itu skill penting, sayangnya jarang diajarkan di bangku kuliah.
Manfaatkan masa-masa ini untuk benar-benar menjajal. Ikut kelas dari jurusan lain, coba ikut organisasi, magang di bidang yang berbeda, atau ngobrol sama orang yang sudah berkecimpung di dunia yang kamu minati. Eksplorasi itu kunci.
Dan yang paling penting: beri diri sendiri izin untuk berubah pikiran. Nggak apa-apa kalau kamu merasa salah jurusan. Nggak masalah kalau kamu butuh waktu lebih lama dari yang lain. Atau kalau kamu pengin berhenti sejenak, atau malah ubah haluan karier sama sekali.
Sebenarnya, yang kita butuhkan bukan peta sempurna dengan rute yang pasti. Yang kita perlukan adalah keberanian buat mengambil langkah pertama meski dag-dig-dug. Ketahanan buat bangkit lagi setelah terjatuh. Kebijaksanaan untuk mengambil pelajaran dari setiap kisah, baik atau buruk. Dan tentu saja, kasih sayang pada diri sendiri saat segala sesuatunya nggak berjalan sesuai skenario.
Hidup ini bukan lari sprint 100 meter yang harus dimenangi secepat mungkin. Hidup itu lebih mirip pendakian gunung. Setiap orang punya jalurnya sendiri, iramanya sendiri, dan pemandangan cantik yang berbeda-beda sepanjang perjalanan.
Untuk kamu yang masih bertahan, yang masih mencoba meski bingung, dan yang masih berani bertanya ingat, kamu sudah menjadi sesuatu. Jadilah pemberani yang tetap melangkah, meski kakinya gemetar. Dan untuk sekarang, itu saja sudah lebih dari cukup.
Artikel Terkait
5 Februari dalam Catatan: Apollo 14 Mendarat di Bulan hingga Pemberontakan Kapal Belanda
Adies Kadir Segera Dilantik sebagai Hakim MK di Hadapan Presiden Prabowo
Main Hakim Sendiri Berujung Buntung: Korban Pencurian Malah Jadi Tersangka
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos