Ternyata, pagi itu, sebelum panggilan darurat berbunyi, Dr. Saeed baru saja menguburkan anak kandungnya sendiri. Dari pemakaman, dengan hati yang masih hancur berkeping, dia langsung bergegas ke rumah sakit. Tangisan untuk anaknya sendiri harus dia tahan, karena ada nyawa anak orang lain yang menggantung di ujung waktu.
Mendengar kenyataan itu, sang ayah pun terdiam seribu bahasa. Kemarahan yang tadi membara seketika padam, berganti dengan rasa sesal yang dalam. Kata-katanya yang kasar tiba-tiba terasa sangat berat di hati.
Dari kisah ini, ada pelajaran besar yang diajarkan Dr. Saeed tanpa satu pun kata menggurui. Tentang bagaimana profesionalisme dan rasa kemanusiaan bisa mengalahkan duka pribadi yang paling dalam. Tentang amanah yang dipegang teguh, meski dunia pribadi sedang runtuh.
Buat kita yang menyaksikan, pesannya jelas: jangan mudah menghakimi. Kita tak pernah benar-benar tahu beban apa yang sedang dipikul orang lain di pundaknya, atau pertempuran seperti apa yang mereka lalui dalam sunyi.
Artikel Terkait
Kim Jong Un Kembali Pimpin Korea Utara, Kim Yo Jong Tak Masuk Komisi Urusan Negara
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Sebagian Besar Sulawesi Selatan
Tanjung Pallette Ramai Pengunjung Saat Libur Lebaran, Namun Angka Turun Dibanding Tahun Lalu
Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman dan Harga Stabil Jelang Lebaran