Sanur Kauh Galang 200 Teba Modern, Solusi Darurat Usai TPA Suwung Ditutup

- Kamis, 18 Desember 2025 | 18:24 WIB
Sanur Kauh Galang 200 Teba Modern, Solusi Darurat Usai TPA Suwung Ditutup

Selasa lalu, TPA Suwung resmi ditutup. Pemerintah Provinsi Bali memutuskan, tempat pembuangan akhir itu kini hanya bakal menerima sampah residu. Kebijakan ini, tentu saja, langsung bikin pusing. Para kepala desa dituntut cepat cari akal agar sampah di wilayahnya gak numpuk dan bau menyengat.

Desa Sanur Kauh di Denpasar, misalnya. Mereka sudah punya tempat pengolahan sampah bernama TPS3R Sekar Tanjung. Tapi, mandiri sepenuhnya? Belum juga.

“Intinya, kita jangan menyalahkan si A, B, C,” ujar Koordinator TPS3R Sekar Tanjung, I Wayan Merta, Kamis pekan lalu.

“Sebenarnya kalau mau memilah sampah berbasis sumber, kita tidak memerlukan TPA besar,” tambahnya.

Fasilitas yang melayani sekitar 2.825 pelanggan mulai rumah tangga, indekos, sampai hotel ini setiap hari mengangkut 9 hingga 14 ton sampah. Yang mencengangkan, hampir separuh lebih adalah residu: popok, pembalut, kardus bekas makanan, dan sejenisnya, bisa mencapai 6-8 ton. Sementara sampah organik diolah jadi media tanam untuk disumbangkan ke sekolah atau petani. Sampah anorganik dibersihkan dan dijual ke pengepul, sisa makanan pun punya jalur sendiri ke peternakan babi.

Dengan iuran Rp 50 ribu per bulan dari warga dan ratusan ribu dari pengusaha, capaian mereka belum maksimal. “Kami hanya mampu mengolah sekitar 35 persen dari yang diangkut. Walaupun tidak sempurna, tim kami terus berusaha dan berinovasi,” aku Wayan.

Target 200 Teba Modern

Menanggapi penutupan TPA Suwung, Desa Sanur Kauh punya rencana ambisius: membangun 200 unit teba modern. Apa itu? Sistem pengolahan sampah organik skala rumah tangga, berupa lubang beton sedalam dua meter yang ditutup. Fungsinya mengurai sampah dapur dan dedaunan jadi kompos secara alami.

Dana APBDes akan digelontorkan agar warga tak terbebani, mengingat biaya per unitnya sekitar Rp 2,3 juta. Sayangnya, hingga saat ini baru 50 unit yang terealisasi. Sisanya masih menunggu anggaran turun.

“Rencana 200 unit, yang baru terealisasi 50. Yang jadi percontohan adalah kepala wilayah, karena beliau nanti yang akan sosialisasikan langsung ke warga,” jelas Wayan Merta.

Ia berharap proyek ini rampung akhir Desember ini agar warga tidak kelimpungan. Tapi di sisi lain, Wayan sendiri sebenarnya kurang yakin apakah 200 teba modern itu cukup untuk mengolah sampah satu desa. Harapannya, masyarakat terdorong untuk membangunnya secara mandiri.

Bagi warga yang tak punya lahan kosong, desa punya alternatif lain: membagikan tempat pengolahan sampah dengan biopori.

Jaminan Tak Akan Bau

Lantas, bagaimana dengan bau? Wayan Merta meyakinkan bahwa lingkungan tak akan jadi sumber aroma tak sedap. Asalkan dibangun dengan benar, proses pengomposan aerobik dengan sirkulasi udara baik akan mencegah bau busuk.

“Masyarakat bisa tuang air cucian beras atau cairan EM4 kalau khawatir,” katanya. Tim desa juga siap datang ke rumah warga untuk memanen kompos jika pemiliknya tidak memanfaatkannya. Biasanya, teba modern penuh dan siap panen dalam waktu tiga bulan.

Wayan punya pengalaman pribadi. “Saya sudah buat teba modern sejak 2013 di lahan bekas tangki septik rumah. Cukup dalam, dan belum penuh juga karena sampahnya menyusut jadi kompos,” tuturnya.

Jadi, langkah ini bukan sekadar reaksi dadakan. Ini upaya bertahap, meski penuh tantangan, untuk lepas dari ketergantungan pada TPA sentral. Semuanya kembali ke kesadaran warga.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler