Yang satu berlari tanpa beban.
Yang lain, langkahnya tertatih menggendong harapan banyak orang di pundaknya.
Ironisnya, masyarakat kerap membandingkan mereka dengan tolok ukur yang sama. Seolah-olah semua orang start dari titik yang setara.
Mengakui, Bukan Merendahkan
Menyadari bahwa tidak menanggung keluarga adalah sebuah privilege bukan untuk meremehkan mereka yang hidupnya lebih mudah. Justru sebaliknya. Ini adalah cara untuk melihat ketangguhan dengan kacamata yang jernih. Untuk paham, bahwa kekuatan sebagian anak lahir dari keterpaksaan yang pahit, bukan pilihan yang matang.
Bagi yang tumbuh dengan ruang lebih lega, kesadaran ini penting. Bukan untuk dilumpuhkan oleh rasa bersalah, tapi untuk membuka mata dan lebih berempati.
Dan bagi mereka yang sejak kecil sudah memikul beban berat, yang pantas mereka terima adalah pengakuan atas perjuangannya. Bukan penghakiman atas apa yang belum mereka capai.
Idealnya, setiap anak memang berhak punya waktu untuk tumbuh perlahan. Tapi realita? Seringkali kejam.
Karena itu, ketika seorang anak bisa melewati masa kecil dan remajanya tanpa harus memikirkan nafkah keluarga, ingatlah. Itu bukan hal yang biasa. Itu adalah keberuntungan yang tak semua orang dapatkan. Dan kita semua perlu menyadarinya.
Artikel Terkait
Balochistan Berdarah Lagi: 47 Tewas dalam Serangan Terkoordinasi
Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup dengan Tokoh Oposisi
Di Balik Rerimbunan Srengseng, Babeh Icam Bertahan Setia Meski Demam Akik Sudah Redup
Kredibilitas Pasar Modal Indonesia Terancam, MSCI Siap Turunkan Status