“Sekarang Lampung sudah berubah peran,” tambahnya. “Dulu tujuan, sekarang justru jadi daerah asal transmigran. Itu bukti kemajuan pembangunan di sini.”
Program ini, ditegaskannya, berorientasi pada peningkatan pendapatan. Setiap peserta akan dapat rumah dan lahan garapan. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah membentuk pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Di sisi lain, dari laporan Dirjen Pembangunan Kawasan Transmigrasi, Sigit Mustofa Nurudin, disebutkan bahwa pelepasan serupa sudah dilakukan untuk 15 KK asal Yogyakarta pada 14 Desember lalu. Artinya, total peserta tahun 2025 mencapai 95 KK. Mereka akan ditempatkan di empat wilayah: Sidenreng Rappang (Sulsel), Poso (Sulteng), Polewali Mandar (Sulbar), dan Halmahera Tengah (Malut).
Sekda Lampung, Marindo Kurniawan, menekankan makna lebih dalam dari transmigrasi. Ini bukan sekadar pindah rumah, tapi langkah strategis membangun kehidupan dan kontribusi untuk bangsa.
“Transmigrasi itu tentang keberanian membuka lembaran hidup baru. Ikut membangun Indonesia. Dari sini, wilayah baru tumbuh, lapangan kerja terbuka, hidup yang lebih layak bisa diraih,” kata Marindo.
Ia mengingatkan, Lampung sendiri adalah bukti bahwa kehidupan rukun dalam keberagaman itu mungkin. Pesannya untuk calon transmigran sederhana: jaga kesehatan selama perjalanan dan bangun kebersamaan.
“Di tempat baru, tetangga adalah keluarga terdekat. Jadikan ini perjalanan bersama. Pemerintah mendampingi, masyarakat mendukung, dan Bapak-Ibu adalah pelaku utamanya,” tuturnya.
Program Trans Karya Nusantara ini merupakan bagian dari implementasi 5 program unggulan kementerian, yang bertujuan mempercepat pembangunan kawasan dan tentu saja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Artikel Terkait
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus