Siklus Sempurna Jimmy Hantu: Dari Sisa Makanan Gratis ke Telur dan Pupuk

- Selasa, 16 Desember 2025 | 17:18 WIB
Siklus Sempurna Jimmy Hantu: Dari Sisa Makanan Gratis ke Telur dan Pupuk

Di Bogor, ada sebuah tempat bernama SPPG Mutiara Keraton Solo yang punya cara unik mengolah sisa makanan. Mereka menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan semua limbah organiknya dikelola dengan prinsip zero waste. Intinya, hampir tak ada yang terbuang percuma.

Pengelolanya, Sujimin lebih dikenal sebagai Jimmy Hantu menerangkan bahwa sisa-sisa dari program itu diolah secara berputar. Tujuannya sederhana: agar tidak berakhir di tempat sampah.

“Contohnya gini,” ujar Jimmy saat kami temui di lokasi SPPG di Tamansari, Bogor, Selasa lalu. “Saya beli buah, kan pakai peti kayu. Nah, peti kayu itu saya bawa ke pabrik tahu saya. Kayunya bisa dipakai untuk membakar tahu.”

“Atau waktu beli tauge yang bungkusnya pakai daun pisang. Daun pisangnya nggak saya buang, tapi saya jadikan pupuk,” lanjutnya.

Menurut Jimmy, potongan sayuran dan sisa makanan lain langsung dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kebetulan, di sekitar dapur SPPG memang ada peternakan miliknya.

“Kalau saya beli jagung atau buncis, potongan-potongannya saya kasihkan ke kalkun, ke ikan, atau ke ayam. Ayamnya jadi gendut-gendut,” ceritanya dengan semangat.

“Kalau masih ada sisa limbah makanan yang mengandung lemak, ya saya berikan lagi ke bebek, entok, atau kalkun. Masih enak kok buat mereka,” sambung dia.

Namun begitu, jika masih ada sisa yang tak termakan, prosesnya belum berhenti. Limbah itu akan diolah lagi menjadi pupuk alami.

“Misal bebek dan entoknya sudah kenyang, sisanya saya tutup dengan tanah. Nanti jadi pupuk. Sebulan kemudian saya buka, eh banyak cacingnya. Cacingnya dimakan entok lagi,” ungkap Jimmy membeberkan siklus itu.

“Lalu entoknya bertelur banyak. Telurnya saya buat roti atau diceplok, kemudian diberikan ke anak-anak. Prosesnya muter seperti itu. Termasuk untuk kalkun.”

Praktik pengelolaan limbah organik semacam ini, kata Jimmy, sudah ia jalankan bertahun-tahun. Sejak 2006 ia menetap di Bogor, sistem ini berjalan tanpa kendala berarti.


Halaman:

Komentar