Di Bogor, ada sebuah tempat bernama SPPG Mutiara Keraton Solo yang punya cara unik mengolah sisa makanan. Mereka menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan semua limbah organiknya dikelola dengan prinsip zero waste. Intinya, hampir tak ada yang terbuang percuma.
Pengelolanya, Sujimin lebih dikenal sebagai Jimmy Hantu menerangkan bahwa sisa-sisa dari program itu diolah secara berputar. Tujuannya sederhana: agar tidak berakhir di tempat sampah.
“Contohnya gini,” ujar Jimmy saat kami temui di lokasi SPPG di Tamansari, Bogor, Selasa lalu. “Saya beli buah, kan pakai peti kayu. Nah, peti kayu itu saya bawa ke pabrik tahu saya. Kayunya bisa dipakai untuk membakar tahu.”
“Atau waktu beli tauge yang bungkusnya pakai daun pisang. Daun pisangnya nggak saya buang, tapi saya jadikan pupuk,” lanjutnya.
Menurut Jimmy, potongan sayuran dan sisa makanan lain langsung dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kebetulan, di sekitar dapur SPPG memang ada peternakan miliknya.
“Kalau saya beli jagung atau buncis, potongan-potongannya saya kasihkan ke kalkun, ke ikan, atau ke ayam. Ayamnya jadi gendut-gendut,” ceritanya dengan semangat.
“Kalau masih ada sisa limbah makanan yang mengandung lemak, ya saya berikan lagi ke bebek, entok, atau kalkun. Masih enak kok buat mereka,” sambung dia.
Namun begitu, jika masih ada sisa yang tak termakan, prosesnya belum berhenti. Limbah itu akan diolah lagi menjadi pupuk alami.
“Misal bebek dan entoknya sudah kenyang, sisanya saya tutup dengan tanah. Nanti jadi pupuk. Sebulan kemudian saya buka, eh banyak cacingnya. Cacingnya dimakan entok lagi,” ungkap Jimmy membeberkan siklus itu.
“Lalu entoknya bertelur banyak. Telurnya saya buat roti atau diceplok, kemudian diberikan ke anak-anak. Prosesnya muter seperti itu. Termasuk untuk kalkun.”
Praktik pengelolaan limbah organik semacam ini, kata Jimmy, sudah ia jalankan bertahun-tahun. Sejak 2006 ia menetap di Bogor, sistem ini berjalan tanpa kendala berarti.
“Bicara organik ya pasti jadi pupuk atau pakan. Kok masih ada yang membuang? Itu artinya ada sesuatu yang bermasalah di rumah tangga kita,” katanya lugas.
Lalu bagaimana dengan pemilahan sampah dari sekolah-sekolah penerima MBG? Jimmy menyebut, pemilahan bisa dilakukan di sekolah maupun di tempatnya.
“Kadang sekolah yang memilah. ‘Ini kulit jeruk, ini botol bekas susu,’ dipisah-pisah. Tapi kalau pun tidak, bagi kami tidak masalah. Soalnya kami punya tim khusus yang akan memilah lagi,” tuturnya.
Proses pemilahan di SPPG didukung oleh tenaga kerja yang cukup banyak. “Satu dapur saja ada 47 karyawan. Lumayan banyak kan,” ucap Jimmy.
Lebih jauh, ia menilai sistem zero waste ini punya dampak ekonomi yang nyata. Ia menyebutnya sebagai penguatan ekonomi sirkular.
“Kalau ditanya keuntungan, ya mungkin 1000% lah,” ungkapnya setengah bergurau. “Saya punya ikan banyak, tidak perlu beli pakan. Punya kalkun dan entok juga sama. Telurnya melimpah, ya sangat untung.”
Di sisi lain, dampak sosialnya juga dirasakan warga sekitar. “Lingkungan senang banget. Udara jadi lebih bagus, jelas. Plus, 98% karyawan di sini adalah warga sekitar,” jelas Jimmy.
Tak hanya itu, SPPG Mutiara Keraton Solo juga aktif menggandeng mitra peternak lokal. Mereka diajari budidaya, misalnya ternak lele.
“Kita ajarin cara ternak lele, bikin hatcher-nya, sampai buat pakannya. Setelah bisa, lele yang mereka hasilkan saya ambil untuk program MBG,” papar Jimmy.
Dengan cara-cara seperti inilah, SPPG ini memastikan setiap sisa MBG tidak sia-sia. Semua kembali masuk ke dalam siklus pangan dan lingkungan sebuah upaya sederhana yang dampaknya nyata untuk keberlanjutan.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu