Yaman: Medan Duel Saudi-Iran yang Tak Kunjung Padam

- Selasa, 16 Desember 2025 | 08:00 WIB
Yaman: Medan Duel Saudi-Iran yang Tak Kunjung Padam

Kelaparan dan penderitaan masih jadi pemandangan sehari-hari di Timur Tengah. Ini adalah ketakutan yang tak pernah benar-benar sirna bagi warga di sana. Hak-hak dasar mereka, entah oleh negara tetangga atau bahkan pemerintahnya sendiri, seringkali terasa direnggut begitu saja. Ambil contoh Yaman. Potensinya sebenarnya besar, tapi kawasan dan pemerintahan yang carut-marut justru melahirkan nestapa yang berkepanjangan.

Perang di Yaman sendiri sudah lama melampaui batas-batas konflik dalam negeri. Awalnya cuma perseteruan politik di tahun 2014 antara pemerintah yang diakui dunia internasional dan kelompok Houthi. Kini, semuanya berubah. Konflik ini telah menjelma menjadi salah satu medan proxy war paling sengit dan menentukan di kawasan. Di balik kehancuran yang berlarut-larut, tersimpan persaingan dua raksasa regional: Arab Saudi dan Iran. Keduanya punya visi geopolitik dan ambisi kepemimpinan yang sama sekali berbeda, dan Yaman jadi ajang pertaruhannya.

Dari Sudut Pandang Riyadh

Bagi Arab Saudi, Yaman adalah garis depan pertahanan mereka. Instabilitas di perbatasan selatan dinilai sebagai ancaman langsung yang bisa dengan mudah menjalar ke wilayah Saudi. Kebangkitan Houthi, yang dianggap punya kaitan ideologi dan politik dengan Teheran, membuat Riyadh cemas. Mereka khawatir, suatu entitas pro-Iran akan berdiri kokoh di perbatasan mereka. Bayangan Yaman jadi jalur untuk rudal, drone, atau operasi intelijen Iran adalah mimpi buruk strategis yang tak bisa ditawar. Maka, intervensi militer dianggap sebagai langkah yang wajib sebuah cara untuk mencegah "pengepungan" oleh Iran.

Bagaimana Iran Melihatnya?

Di sisi lain, Iran punya kalkulasi sendiri. Mereka memanfaatkan Yaman sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas pengaruh, lewat perang asimetris dan dukungan pada aktor non-negara. Dengan mendukung Houthi, Iran bisa melemahkan dominasi Saudi tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Bantuan pelatihan, dukungan intelijen, dan peningkatan kemampuan drone serta rudal mereka telah menggeser keseimbangan kekuatan militer. Serangan-serangan Houthi ke fasilitas vital Saudi, dan belakangan ke jalur pelayaran di Laut Merah, membuktikan betap berharganya hubungan ini bagi Teheran. Singkatnya, Yaman adalah titik tekan yang efektif bagi Iran untuk memproyeksikan kekuatan, sekaligus menantang arsitektur keamanan Teluk yang selama ini didominasi AS.

Yaman itu penting, bukan cuma secara geografis, tapi juga simbolis. Ini adalah perebutan pengaruh antara Saudi dan Iran yang sudah berlangsung bertahun-tahun, membentuk wajah Timur Tengah modern. Saudi, dengan posisinya sebagai pemimpin Sunni dan sekutu utama AS, berhadapan dengan Iran yang punya pendekatan revolusioner berbasis "resistensi". Yaman, yang terletak di jalur maritim vital dan berbatasan langsung dengan Jazirah Arab, menjadi laboratorium bagi kedua visi tadi. Di sinilah batas-batas kemampuan dan pengaruh masing-masing diuji.

Kekuatan Global Turut Bermain

Konflik ini makin rumit karena melibatkan kekuatan dari luar kawasan. Amerika Serikat, misalnya, mendukung Saudi lewat penjualan senjata, bantuan intelijen, dan dukungan diplomatik. Dukungan ini memperkuat keyakinan Riyadh untuk terus menekan Houthi secara militer. Sebaliknya, Iran memanfaatkan rivalitasnya dengan AS untuk menguatkan narasi perlawanan di kawasan. Ketegangan AS-Iran, dari isu nuklir sampai sanksi ekonomi, meresap ke dalam dinamika perang Yaman, mengubah aktor lokal menjadi pion dalam kompetisi geopolitik yang jauh lebih luas.

Meski Saudi dan Iran sempat berjabat tangan dan menyepakati pemulihan hubungan di tahun 2023, situasi di Yaman tetap sulit distabilkan. Logika geopolitik di balik proxy war ini nyatanya belum berubah. Saudi masih memandang Houthi sebagai ancaman keamanan langsung. Sementara itu, Iran melihat ketahanan Houthi sebagai aset strategis yang meningkatkan daya tawarnya. Di lapangan, Houthi kini lebih percaya diri, baik secara politik maupun militer. Pemerintah Yaman yang diakui internasional justru terpecah dan lemah. Kesenjangan inilah yang membuat upaya diplomasi regional sulit diterjemahkan menjadi perdamaian yang nyata bagi warga Yaman.

Dan rakyat Yamanlah yang menanggung beban terberat. Mereka terjebak dalam salah satu krisis kemanusiaan terparah di dunia: kelaparan, ekonomi yang runtuh, dan jutaan pengungsi. Sayangnya, penderitaan mereka seringkali tenggelam oleh narasi besar soal pengaruh, kekuasaan, dan strategi. Bagi Saudi dan Iran, Yaman adalah panggung duel. Bagi kekuatan global, ini soal stabilitas energi dan keamanan kawasan. Kesenjangan antara realitas lokal yang pahit dan ambisi geopolitik inilah yang membuat perang ini seolah tak ada ujungnya.

Adakah Jalan Keluar?

Masa depan Yaman pada akhirnya bergantung pada kesadaran para aktor regional dan internasional. Mereka harus menyadari batas-batas dari proxy war dan bahaya instabilitas berkepanjangan. Rivalitas Saudi-Iran mungkin tak akan hilang, tapi bentuknya bisa berubah jika diplomasi menjadi lebih pragmatis. Namun bagi Yaman, luka perang sudah terpatri dalam di setiap sendi kehidupan politik dan sosialnya. Selama negeri ini masih jadi medan pertarungan bagi kepentingan kekuatan besar, perdamaian akan tetap menjadi mimpi yang jauh. Semuanya baru mungkin terwujud jika nanti muncul titik keseimbangan baru dalam dinamika kekuasaan di Timur Tengah.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar