Jika anak sering dicela, ia akan jadi gemar menyalahkan. Banyak dimusuhi? Ia akan tumbuh menjadi pemberontak. Lingkungan yang penuh ketakutan membentuk pribadi yang cemas. Terlalu dikasihani, ia akan jadi peratap nasib. Dan olok-olokan hanya akan menjadikannya pemalu.
Sebaliknya, rasa iri di sekitarnya bisa memupuk perasaan bersalah. Tapi jika ia dimengerti, kesabarannya akan terasah. Dukungan dan pujian yang tepat membangun kepercayaan diri dan kemampuan menghargai. Penerimaan dari lingkungan mengajarkannya menyayangi.
Yang menarik, ketika anak jarang disalahkan, ia justru nyaman menjadi dirinya sendiri. Pengakuan dari orang-orang di sekelilingnya membantu ia menentukan arah hidup. Perlakuan jujur membuatnya mengenal kebenaran. Perlakuan adil mengajarkannya keadilan. Rasa aman membantunya percaya pada diri sendiri dan orang lain. Dan keramahan akan menanamkan keyakinan bahwa dunia ini indah.
Namun begitu, mendidik anak juga perlu pemahaman mendasar tentang kedudukan mereka dalam Al-Qur’an. Tujuannya, agar pendidikan yang kita berikan mengantarkan pada kesalehan. Salah satu sebutan indah untuk anak adalah qurrata a’yun, penyenang hati.
Pertama, anak adalah perhiasan dunia. Sebagai orang tua atau guru, hati-hati jangan sampai terlena. Jangan sampai anak yang lebih cerdas atau tampan mendapat perhatian dan kasih sayang berlebih, sehingga mengabaikan rasa keadilan bagi yang lain.
Kedua, anak bisa menjadi sumber kelalaian. Kita harus waspada, jangan sampai keberadaan mereka justru membuat kita malas atau lalai dari ibadah.
Ketiga, mereka adalah fitnah atau ujian. Jangan sampai anak justru menjadi penghalang bagi orang tua dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
Keempat, dalam kondisi tertentu, anak bisa berubah menjadi musuh. Inilah mengapa pendidikan atau tarbiyah harus dimulai sedini mungkin. Agar mereka tidak tumbuh menjadi penghalang ketaatan, bahkan musuh bagi orang tuanya sendiri.
Semoga kita semua, sebagai orang tua, diberi bimbingan oleh Allah untuk mendidik anak-anak menjadi insan saleh. Insan yang membawa kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin.
Imam Nur Suharno
Penulis Buku “Keluarga Samara Sehidup Sesurga”, dan Kepala Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.
Artikel Terkait
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus
Dua Turis Asing Pembuat Konten Porno Viral Berjaket Ojol Digagalkan Kabur di Bandara Bali
Dua Pemudik Motor Terluka dalam Kecelakaan di Jalur Padat Cirebon
Polisi Ungkap Jaringan Konten Dewasa WNA di Bali, Pelaku Pakai Jaket Ojol untuk Viral