Raut lelah masih jelas terpancar di wajah Heru Apriangga. Di rumahnya di Blok Bungkul Barat, Indramayu, Minggu siang itu, sorot matanya masih menyimpan bayangan mengerikan dari perjalanan panjang yang baru saja ia lalui. Delapan hari. Itu waktu yang ia habiskan untuk berjalan kaki, menembus hutan lebat, menghindari longsor, dan menyaksikan langsung sisa-sisa kehancuran banjir bandang di Aceh Tengah. Baginya, bisa kembali menginjakkan kaki di rumah terasa seperti keajaiban.
Sebagai pekerja bangunan, Heru berangkat ke Aceh Tengah bersama puluhan rekan pada Jumat, 21 November 2025. Tujuannya: membangun markas TNI di kawasan hutan Pamar. Mereka tiba di lokasi proyek pada Rabu malam. Namun, petaka datang jauh lebih cepat dari perkiraan siapa pun.
“Jadi yang dilihat di medsos itu sebenarnya hanya sebagian kecil,” ujar Heru, suaranya rendah.
“Aslinya, jauh lebih parah lagi.”
Malam Gelap dan Jeritan Minta Tolong
Hanya beberapa jam setelah tiba, segalanya berubah. Listrik padam total, sinyal ponsel lenyap. Dalam kegelapan pekat, Heru mendengar suara gemuruh yang tak biasa air yang mengalir deras, bercampur dengan bunyi batang kayu saling menghantam. Dari kejauhan, teredam tapi jelas, terdengar jeritan minta tolong.
Untungnya, posisi mereka lebih tinggi. “Kita nggak bisa ngapa-ngapain, listrik mati, sinyal nggak ada,” kenangnya. “Saya bangunin teman-teman, kami lihat banjir itu sekitar seratus meter dari tempat kami.” Mereka selamat malam itu, tapi belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana.
Rasa Lapar dan Kecurigaan
Keesokan harinya, mereka tetap bekerja. Tapi bencana sebenarnya mulai terasa lewat perut yang keroncongan. Dua hari berlalu tanpa jatah makan sama sekali. Saat protes dilayangkan, jawaban dari anggota TNI yang berjaga justru membuat hati mereka semakin ciut.
“Kata anggota TNI-nya, jangankan kalian, kita juga kelaparan.”
Larangan untuk pergi pun diberikan. Akses jalan terputus, katanya, dan rawan longsor susulan. Heru dan beberapa rekannya tak percaya. “Kami pikir cuma alasan nahan kita biar terus kerja,” ucapnya. Akhirnya, dari 24 pekerja, separuhnya memilih nekat pergi. Heru termasuk di dalamnya.
Begitu keluar dari area markas, kenyataan pahit langsung menyambut. Permukiman warga lenyap. Jalan dan jembatan putus. Batu-batu besar dan batang pohon berserakan di mana-mana, tertutup lumpur tebal. Barulah mereka sadar, bencana yang terjadi jauh melampaui imajinasi mereka.
Delapan Hari di Tengah Kehancuran
Tanpa peta dan arah yang pasti, mereka berjalan menuruni hutan. Harapannya cuma satu: menemukan kampung yang masih utuh. Yang mereka temui justru pemandangan pilu kampung-kampung kosong yang rata dengan tanah, kendaraan yang tersangkut di dahan pohon.
“Semakin ke bawah, kondisinya makin parah. Makin rata,” ujar Heru.
Untuk bertahan, mereka memakan apa saja yang bisa ditemukan. Bahkan minum dari genangan air berlumpur. Pada hari ketiga, keputusasaan hampir melanda. Longsor susulan terjadi, mengurung mereka. “Belakang longsor, depan jurang juga longsor, samping pohon besar roboh. Kami sempat pasrah, cuma bisa pegangan tangan,” ceritanya. Beruntung, mereka selamat dan memutuskan terus berjalan.
Jalan Pulang yang Berliku
Secercah harapan muncul saat menemukan kampung dengan warga yang masih bertahan. Di sana, untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, mereka kembali makan nasi. Perjalanan kaki delapan hari itu akhirnya berujung di Takengon, kota yang lumpuh tapi masih ada aktivitas.
Dari Takengon, perjalanan berlanjut ke posko dekat Bandara Rembele. Di situlah bantuan mulai terorganisir. Melalui Tagana Jawa Barat, koordinasi untuk pulang mulai terbentuk. Mereka dipindahkan ke Lhokseumawe.
“Di sana saya pertama kali tidur di kasur, makan teratur tiga kali sehari,” kata Heru, mengingat momen kecil yang terasa sangat berharga.
Delapan dari dua belas orang bisa pulang lebih dulu. Heru dan tiga temannya tertahan karena urusan biaya. Bantuan tak terduga akhirnya datang dari seorang anggota DPRD Jabar yang menghubunginya. “Waktu itu tiba-tiba ada yang telepon ngasih bantuan, dari situ saya akhirnya bisa pulang.”
Heru tiba di Jakarta pada Jumat, 12 Desember 2025, lalu langsung melanjutkan perjalanan ke Indramayu. Setelah semua yang ia lewati ketakutan, kelaparan, dan ancaman maut kini hanya ada satu perasaan yang tersisa.
“Alhamdulillah, saya bisa pulang,” tutupnya pelan. Kata-kata sederhana yang punya seribu makna.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu