Raja Dirgantara Terbang Bebas, GPS Pantau Langkah Sang Elang Jawa

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 20:00 WIB
Raja Dirgantara Terbang Bebas, GPS Pantau Langkah Sang Elang Jawa

Siang itu, di kawasan Danau Situgunung yang sejuk, sebuah sangkar dibuka. Seekor Elang Jawa bernama 'Raja Dirgantara' melesat keluar, membelah udara Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Pelepasliaran pada Sabtu (13/12) itu bukan sekadar ritual. Ia menandai tiga dekah perjalanan panjang konservasi untuk satwa yang menjadi simbol bangsa ini.

Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, hadir langsung. Dalam sambutannya, ia menegaskan betapa krusialnya upaya ini.

"Elang Jawa adalah satwa endemik yang karismatik. Kebanggaan kita semua. Ia identik dengan Burung Garuda, lambang negara Indonesia," ujar Rohmat, Sabtu (13/12/2025).

Menurutnya, semua usaha ini akan sia-sia tanpa perlindungan habitat. Hutan-hutan pegunungan di Jawa yang tersisa harus dijaga. Pemerintah pun terus mendorong lahirnya kawasan konservasi baru, entah itu taman nasional atau taman hutan raya, sebagai benteng terakhir bagi elang ini.

Rohmat tak sendirian. Ia didampingi sejumlah pejabat, termasuk Dirjen KSDAE Satyawan Pudyatmoko, hingga perwakilan keluarga Max Eduard Gottlieb Bartels sang penemu awal spesies Nisaetus bartelsi ini.

Kisah Raja Dirgantara sendiri berawal dari Cianjur. Ia diserahkan oleh masyarakat setempat pada September 2024 silam. Saat itu, ia masih muda dan terlihat jinak. Lalu, selama satu tahun tiga bulan, elang itu menjalani rehabilitasi ketat di PPKEJ Cimungkad.

Tim di sana melatihnya kembali. Mengasah insting liar yang sempat tumpul dengan membiasakannya memangsa bunglon dan ular koros. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan medis dan perilaku, Raja Dirgantara akhirnya dinyatakan layak. Skornya mencapai 405 poin, melewati ambang batas yang ditetapkan para peneliti elang.

Lalu, mengapa Situgunung yang dipilih? Ternyata, kajian habitat menunjukkan lokasi ini ideal. Sumber pakannya melimpah, sementara pesaingnya minim. Sebuah tempat yang diharapkan bisa menjadi rumah barunya.

Yang menarik, kali ini ada sentuhan teknologi. Di punggung Raja Dirgantara terpasang sebuah GPS telemetri. Alat itu akan memantau setiap pergerakannya di alam bebas.

"Inisiatif penggunaan GPS Telemetri ini insyaallah akan kita dukung dan kembangkan ke depan," tegas Rohmat.

Pernyataan itu diamini oleh para peneliti. Pramana Yuda, guru besar biologi dari UAJY, berharap alat berbasis GSM itu bisa bertahan hingga lima tahun.

"Semoga kita bisa melacak dan mendapatkan informasi dasar tentang ekologi serta perilakunya. Data itu sangat kita butuhkan," kata Pramana.

Peneliti BRIN, Oki Hidayat, menambahkan keunggulan lain. Teknologi ini memungkinkan pemantauan real-time yang praktis.

"Kepala Balai Besar kalau mau tahu elangnya ada di mana, tinggal buka ponsel. Langsung ketahuan," ucap Oki.

Di sisi lain, soal harga juga lebih bersahabat. Oki membandingkan, alat GPS berbasis GSM ini harganya sekitar Rp 16 juta. Jauh lebih murah dibanding yang memakai satelit Argos yang bisa mencapai Rp 50 hingga 80 juta.

Pelepasliaran siang itu pun berakhir. Raja Dirgantara telah pergi, menghilang di balik pepohonan. Perjalanannya baru saja dimulai, dan kini, kita bisa mengikutinya dari jauh menaruh harap agar ia bertahan, dan bukti bahwa upaya konservasi ini tidaklah sia-sia.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar