Di Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, suasana belajar masih berjalan meski di tengah kepungan abu vulkanik. Sabtu lalu (13/12), puluhan siswa SD Negeri 02 Supiturang terlihat serius mengerjakan soal-soal Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS). Bedanya, mereka tidak berada di dalam kelas yang biasa, melainkan di bawah tenda sekolah darurat yang didirikan setelah bencana melanda.
Gedung sekolah mereka hancur diterjang material erupsi Gunung Semeru. Menanggapi kondisi itu, Kemendikdasmen bergerak cepat dengan mendirikan dua unit tenda. Fasilitas sementara ini dipakai untuk menampung 94 siswa agar kegiatan belajar mengajar tidak terputus sama sekali.
“Kami berusaha agar anak-anak bisa tetap belajar, meski dalam situasi sesulit ini,” ujar seorang perwakilan dinas pendidikan setempat.
Di sisi lain, laporan terbaru dari BPBD Jawa Timur memperjelas dampak erupsi yang terjadi pada Rabu (19/11) itu. Catatan mereka menyebutkan setidaknya 23 bangunan mengalami kerusakan. Rinciannya, 21 di antaranya adalah rumah penduduk, lalu satu musala, dan satu bangunan sekolah dasar.
Jadi, meski tenda darurat itu menjadi solusi sementara, yang jelas semangat belajar anak-anak di Pronojiwo tak ikut padam. Mereka tetap berkumpul, membuka buku, dan menyelesaikan soal ujian sebuah potret ketangguhan kecil di tengah landscape bencana yang masih suram.
Artikel Terkait
Banjir 2026: Ketika Kota-Kota Kita Terus Menenggelamkan Diri Sendiri
Gus Yaqut Penuhi Panggilan KPK, Kasus Kuota Haji 2023-2024 Menyandang Status Tersangka
Rapat Pleno PBNU Pulihkan Posisi Gus Yahya, Tegakkan Kembali Aturan Dasar
Menteri Rachmat: Jangan Beri Kail, Kalau Orangnya Sudah Keburu Meninggal